
Jakarta,--
PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono mempunyai cara tersendiri untuk mengapresiasi atau menyambut kemenangan Barack Obama selaku Presiden ke-44 Amerika Serikat. Meski sekedar memberi keterangan pers di hadapan wartawan, Presiden Yudhoyono meyediakan waktu khusus untuk memberi keterangan pers dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Tidak hanya soal bahasa yang berbeda, gelar keterangan pers dalam dua bahasa ini uniknya dilakukan di ruang yang berbeda. Untuk keterangan pers perdana, Presiden Yudhoyono memilih menggunakan bahasa Indonesia di ruang crudential Istana Merdeka (ruang depan Istana menghadap Monas). Sementara untuk keterangan pers kedua, Presiden Yudhoyono menyediakan waktu di ruang resepsi Istana Merdeka (ruang tengah) dengan menggunakan bahasa Inggris.
Kesibukan tidak berhenti pada penggunaan ruang yang berbeda. Untuk mengafdolkan keterangan versi bahasa Inggris, Presiden Yudhoyono juga membutuhkan peralatan khusus. Alat itu adalah teleprompter (alat ini biasa digunakan penyiar saat membaca naskah berita).
Penggunaan teleprompter ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan. SBY yang telah berpakaian rapi mengenakan jas hitam dan celana hitam, justru kikuk dengan teleprompter yang telah menyediakan naskah berisi selamat dan harapan Indonesia terhadap Presiden AS anyar, Barack Obama.
Mula-mula, mantan Menko Polkam era Presiden Megawati Soekarno Putri ini membaca naskah yang akan disiarkan ke media. Di sela-sela membaca naskah tersebut, SBY justru lebih banyak mengeluh perihal tanda baca naskah yang tertera di teleprompter.
"Terlalu banyak komanya ini, mengganggu," ujarnya dengan nada meninggi.
Tidak ingin berspekulasi, dan memastikan pembacaan naskah berjalan ciamik, Presiden Yudhoyono mencoba membaca naskah di layar. "Saya mau baca sekali," papar SBY yang ditimpali Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng agar wartawan tidak merekam adegan pembacaan naskah ucapan selamat terhadap Obama.
"Ini off the record," kata Andi.
Presiden Yudhoyono pun melantunkan naskah yang tertera di layar teleprompter, dengan dibumbuhi 'olah tangan' SBY yang bergerak ke kanan, kiri, atas, bawah dan sebagainya. Selesai mencoba, Presiden Yudhoyono rupanya merasa kurang sreg. Presiden Yudhoyono pun meminta dua jubirnya agar mencobanya kembali.
Namun belum juga Presiden Yudhoyono mencoba, tiba-tiba Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng meminta teknisi untuk memperbaiki latar SBY yang terlihat tak apik di kamera. Saat menengok televisi yang teronggok di sudut kanan Presiden Yudhoyono berdiri terdapat microphone yang menyembul di belakang latar SBY memberi keterangan pers.
Menunggu perbaikan latar, dan mengisi keheningan, tiba-tiba Presiden Yudhoyono melempar kelakar. Soal Pilpres AS yang berjalan seiring Pilkada Jawa Timur, dan tata letak bunga mawar yang tak baik menjadi bahan guyonan SBY.
"Sudah lama saya tidak menyanyi. Begitu krisis keuangan berlalu, saya akan menyanyi khusus untuk wartawan," tuturnya tertawa lebar.
Selesai berkelakar, SBY pun melanjutkan ujicoba membaca naskah dengan alat teleprompter. Namun sial, ditengah-tengah naskah, lidah SBY justru keserimpret saat mengeja. Apesnya, justru Dino yang kena puntung atas keserimpet lidha SBY tersebut. "Dino ini ..kalau bisa dipersulit kenapa kita permudah," tandasnya sambil menyeka keringat yang terus menetes.
Dino yang berada di sebelah kanan hanya mesem-mesem menerima pulung amarah SBY, dan kemudian bergegas mengubah tata bahasa ucapan selamat kepada Obama. Selang tak lama, Presiden Yudhoyono dengan serius membaca naskah 'sealami' mungkin. Hasilnya, ketika SBY mengakhiri pembacaan naskah, tepuk tangan pun bergemuruh.
Seorang wartawan senior yang berada di samping Persda Network, usai melihat tingkah SBY berikut pembantunya, sempat mengutarakan pujian khusus dengan gaya SBY ini. "Walah, memang dasar penggila perfeksionis," ungkapnya dengan senyum melebar dan berlalu meninggalkan ruang crudential Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/11).(Persda Network/ade mayasanto)
Obama Terpilih, SBY Sibuk Gelar Konpers
Label: politik
Diposkan oleh @de di 9:06 PM 0 komentar Link ke posting ini
SBY: Silakan Periksa Keluarga Saya
Rabu, 24 September 2008 | 19:53 WIB
JAKARTA, RABU -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya secara lugas mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kepolisian, kejaksaan, dan pihak pengadilan memeriksa anggota keluarga yang terlibat dalam masalah hukum.
"Saya ingin memberi contoh untuk tidak menghalang-halangi siapapun yang menjalani pemeriksaan atau proses hukum kalau itu menyangkut katakanlah kedekatan entah keluarga, entah dalam pemerintahan, atau perkawanan dan sebagainya. Saya ingin ditegakkan betul keadilan ini. saya ingin penegakkan hukum pemberantasan korupsi terus berjalan," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/9).
Meski demikian, Presiden Yudhoyono masih juga belum merinci siapa anggota keluarga yang dipersilahkannya untuk diperiksa aparat hukum. Presiden Yudhoyono sekedar memberi sinyal perihal kasus korupsi yang saat ini tengah terbelit masalah hukum.
JAKARTA, RABU -
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya secara lugas mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kepolisian, kejaksaan, dan pihak pengadilan memeriksa anggota keluarga yang terlibat dalam masalah hukum.
"Saya ingin memberi contoh untuk tidak menghalang-halangi siapapun yang menjalani pemeriksaan atau proses hukum kalau itu menyangkut katakanlah kedekatan entah keluarga, entah dalam pemerintahan, atau perkawanan dan sebagainya. Saya ingin ditegakkan betul keadilan ini. saya ingin penegakkan hukum pemberantasan korupsi terus berjalan," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/9).
Meski demikian, Presiden Yudhoyono masih juga belum merinci siapa anggota keluarga yang dipersilahkannya untuk diperiksa aparat hukum. Presiden Yudhoyono sekedar memberi sinyal perihal kasus korupsi yang saat ini tengah terbelit masalah hukum.
"Saudara juga mengikuti banyak kasus-kasus pelanggaran hukum yang berkaitan dengan korupsi. Permintaan saya, harapan saya sebagai presiden kepada para penegak hukum, apakah kejaksaan, kepolisian, pengadilan, KPK, tegakkan hukum dengan sungguh-sungguh, adil bagi semua. Dan tidak ada yang perlu dilindungi, saya persilahkan," paparnya.
Saat ini kerabat dan keluarga besar SBY yang tengah berada dalam masalah hukum dengan KPK adalah Aulia Pohan yang merupakan besan SBY. Aulia Pohan disebut-sebut Mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah bertanggung jawab dalam prosedur pencairan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) yang digunakan untuk diseminasi dan amendemen Undang-Undang Bank Indonesia. Pernyataan itu disampaikannya saat menjadi saksi dalam persidangan dengan terdakwa Hamka Yandhu dan Antony Zeidra Abidin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi kemarin.
Menjawab pertanyaan ketua majelis hakim Mansurdin Chaniago, Burhanuddin menambahkan, Aulia juga bertindak sebagai koordinator dalam rapat Dewan Gubernur pada 22 Juli 2003. Dalam rapat itulah disetujui penggunaan dana Rp 100 miliar dari Yayasan untuk keperluan diseminasi dan bantuan hukum bagi para mantan pejabat bank sentral yang terbelit perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.
Sidang tersebut juga menghadirkan Aulia Pohan sebagai saksi. Dalam keterangannya, Aulia mengakui pencairan dana bagi diseminasi politik dan amendemen Undang-Undang Bank Indonesia sangat penting. Aulia berkilah saat itu neraca keuangan Bank Indonesia dinilai dengan predikat disclaimer. (Persda Network/ade mayasanto)
Label: politik
Diposkan oleh @de di 7:51 PM 66 komentar Link ke posting ini
Bos Besar Mitsubishi Bertemu SBY
Jakarta,--
CEO Mitsubishi Corporation Yokiriko Kojima, Senin (22/9) siang bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta. Berlangsung selama satu jam, usai pertemuan Kojima memilih menghindar dari wartawan.
Beruntung, Menteri Perindustrian Fahmi Idris bersedia memberikan keterangan pers perihal perbincangan yang dilakukan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan bos besar Mitsubishi Corporation yang terus bergiat pada investasi di Tanah Air.
Fahmi kepada wartawan menegaskan, Mitsubishi Corporation berminat untuk menggenjot angka investasi yang ditanam di Indonesia. Dari yang semula US$4 miliar pada 2005, bakal membengkak menjadi US$13 miliar akhir tahun ini.
CEO Mitsubishi Corporation Yokiriko Kojima, Senin (22/9) siang bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta. Berlangsung selama satu jam, usai pertemuan Kojima memilih menghindar dari wartawan.
Beruntung, Menteri Perindustrian Fahmi Idris bersedia memberikan keterangan pers perihal perbincangan yang dilakukan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan bos besar Mitsubishi Corporation yang terus bergiat pada investasi di Tanah Air.
Fahmi kepada wartawan menegaskan, Mitsubishi Corporation berminat untuk menggenjot angka investasi yang ditanam di Indonesia. Dari yang semula US$4 miliar pada 2005, bakal membengkak menjadi US$13 miliar akhir tahun ini.
"Presiden bertanya, bisa tidak dalam 2 tahun ini ditingkatkan? Mereka mengatakan, investasi Mitsubishi pada 2008 dalam berbagai bidang mencapai US$13 miliar. More than double kata Kojima," ujar Fahmi mencoba mereka ulang pembicaraan SBY dengan Kojima.
Fahmi lebih lanjut mengatakan, Mitsubishi selama berada di Indonesia berminat untuk menanam investasi pada bidang otomotif. Di bidang kendaraan bermotor ini, Mistsubishi telah mempekerjakan sekitar 200 ribu tenaga kerja, dengan rekam jejak penjualan yang merangkak naik. Penjualan di tahun 2007, tercatat mencapai 60 ribu unit dan di tahun 2008 mencapai 150 ribu unit.
Tidak hanya itu, Mitsubishi juga tercatat turut serta pada program listrik 10 ribu Mw. Dan uniknya, Mitsubishi ternyata ikut dalam proyek pengolahan gas alam cair Senoro mulai masuk tahap konstruksi awal tahun depan.
"Khususnya di Senoro dan Donggi, akan diputuskan oleh pemerintah dalam waktu dekat," paparnya.
Untuk diketahui, Mitsubishi Corporation merupakan pemilik mayoritas pembangunan kilang gas alam cair berkapasitas dua juta ton pada proyek pengolahan gas alam cai Senoro. Proyek itu merupakan integrasi dari proyek eksploitasi gas alam yang dikelola Medco Energi dan Pertamina. Ketiganya bergabung dalam Donggi Senoro LNG. Gas dari Kilang Senoro rencananya akan diekspor untuk kebutuhan pembeli di Jepang mulai tahun 2012.
Menyangkut tudingan Mitsubishi telah melakukan kecurangan hingga berhasil menjadi pemilik mayoritas pembangunan kilang gas alam cair di Senoro-Donggi, Fahmi mengaku tidak mengetahuinya.
"Nggak tahu tuh ya. Yang terang itu belum diputuskan," paparnya.
Ketika ditanya apakah Kojima membahas masalah kecurangan yang akan diadukan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan Presiden Yudhoyono, Fahmi justru menjawab sekenanya.
"Implisit ya, tapi nggak jelas," sergahnya.
Sebelumnya, pihak-pihak yang tergabung dalam konsorsium proyek pengolahan gas alam cair Senoro telah menyepakati formula harga gas yang mengikuti harga minyak. Harga jual gas ke kilang berkisar 9-12 dollar AS untuk harga minyak di atas 100 dollar AS.
Penandatanganan pokok-pokok kesepakatan harga jual gas proyek Senoro dilakukan pada Jumat (29/8) di Jakarta. Proyek gas alam cair Senoro di Sulawesi Tengah merupakan proyek gas alam cair keempat di Indonesia setelah Arun, Bontang, dan Tangguh. Dengan masa kontrak 15 tahun, nilai penjualan gas dari Lapangan Matindok dan Senoro mencapai 16 miliar dollar AS.
Suplai gas mayoritas akan berasal dari Lapangan Senoro yang dikelola bersama oleh Medco dan Pertamina (sekitar 250 juta kaki kubik per hari) dan Lapangan Matindok yang dimiliki 100 persen oleh Pertamina (sekitar 85 juta kaki kubik per hari).
Para pihak juga telah menyepakati pasokan harga gas dari lapangan ke kilang akan mengikuti standar harga minyak Japan Crude Cocktail (JCC). Harga gas akan mencapai 9,75 dollar AS per MMBTU di harga minyak 100 dollar AS dan naik menjadi 12,15 dollar AS per MMBTU pada harga minyak 120 dollar AS. Harga jual gas alam cair akan memperhitungkan komponen biaya pembangunan dan biaya proses di kilang. Proyek Senoro membutuhkan investasi sekitar 1,4 miliar dollar AS.(Persda Network/ade)
Label: ekonomi
Diposkan oleh @de di 8:48 PM 0 komentar Link ke posting ini
SBY Potong Nasi Tumpeng
Rayakan Hut Ke-59
PERAYAAN ulang tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke-59 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/9) sore berlangsung sederhana. Acara yang dipadukan dengan buka bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan anggota Kabinet Indonesia Bersatu berikut keluarga sekedar memotong nasi tumpeng dan doa.
Tanpa aluanan musik, potongan nasi tumpeng perayaan ulang tahun Kepala Negara selepas sholat magrib ini secara bangga diberikan Presiden Yudhoyono kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono.
"Kalau ulang tahun kemerdekaan saya potong tumpeng, saya bagikan ke veteran. Sekarang ultah saya, saya akan kasih ke istri tercinta," ujar Kepala Negara dengan senyum melebar.
PERAYAAN ulang tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke-59 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/9) sore berlangsung sederhana. Acara yang dipadukan dengan buka bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan anggota Kabinet Indonesia Bersatu berikut keluarga sekedar memotong nasi tumpeng dan doa.
Tanpa aluanan musik, potongan nasi tumpeng perayaan ulang tahun Kepala Negara selepas sholat magrib ini secara bangga diberikan Presiden Yudhoyono kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono.
"Kalau ulang tahun kemerdekaan saya potong tumpeng, saya bagikan ke veteran. Sekarang ultah saya, saya akan kasih ke istri tercinta," ujar Kepala Negara dengan senyum melebar.
Dengan didampingi duo putranya, Agus Harimurti dan Edhi Baskoro, Presiden Yudhoyono bercerita bahwa ulang tahunnya tersebut baru pertama kali dilakukan di Istana Kepresidenan.
"Baru sekarang dilakukan di sini. Sebelumnya, saya ada di Sydney, Finlandia dan di luar daerah," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Presiden Yudhoyono kepada istri anggota Kabinet Indonesia Bersatu dan keluarga menyatakan permohonan maaf lantaran kerap memanggil para menteri dalam tugas negara.
"Usia KIB hampir 4 tahun, amat jarang menteri beserta ibu, putra dan cucu untuk berbincang. Kita meminta maaf kepada para ibu karena hari libur dan malam hari sering mengundang para menteri untuk melakukan pertemuan, sidang kabinet atau meninjau ke seluruh pelosok," paparnya seraya menegaskan kesalahan berada pada dirinya dan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden.
"Saya meminta maaf, jangan salahkan suami yang kadang-kadang kurang bersama keluarga. Yang disalahkan saya pertama, dan kedua Jusuf Kalla," tukasnya.
Kepala Negara berharap, hal itu tidak mengurangi langkah anggota kabinet di pemerintahan yang tersisa setahun. "Kita akan melangkah ke depan. Saya berharap mari kita perkokoh kebersamaan kita, pergigih upaya kita. Mohon doa restu, sisa masa bakti yang jatuh tempo 20 Oktober dapat dilaksanakan sebaik-baiknya," ungkap SBY.
Menerima Doa
Selasa, (9/9), di hari ulang tahun yang ke-59, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku menerima kado terindah dari istri tercinta yang juga Ibu Negara Ani Yudhoyono. Bertempat di kantor Presiden, Jakarta, sebelum memimpin rapat terbatas tentang anggaran pendidikan, Presiden Yudhoyono yang didampingi Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengatakan, menerima kado dari Ibu Negara berupa doa.
"Doa, luar biasa doanya," jawab Presiden Yudhoyono ketika ditanya perihal kado yang diberikan Ibu Negara.
Presiden Yudhoyono dengan senyum mengembang kepada wartawan berharap, di sisa waktu tugasnya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan mampu menuntaskan kinerja secara apik.
"Doakan saya untuk melaksanakan tugas," ujarnya.
Pria kelahiran Pacitan yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna coklat muda lebih lanjut menghanturkan terima kasih atas jalinan kerjasama yang selama ini berjalan baik dengan komunitas wartawan.
"Terima kasih atas kebersamaan selama ini dan saya minta kita lanjutkan kebersamaan kita untuk tugas pembangunan dan atasi masalah untuk masa depan yang lebih baik," paparnya.
Usai menerima ucapan selamat dari wartawan, Presiden Yudhoyono juga menerima ucapan selamat dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kalla yang lebih dulu tiba di Kantor Presiden, menanti kehadiran Presiden Yudhoyono di pintu masuk Kantor Presiden bersama sejumlah ajudan.(Persda Network/ade)
Diposkan oleh @de di 4:51 PM 0 komentar Link ke posting ini
Sekelumit Kisah Kalla Memimpin RI
Laporan Keuangan Negara Bak Laporan Toko
DALAM memimpin Indonesia, Wakil Presiden Jusuf Kalla memiliki sekelumit cerita jenaka, namun penuh kekonyolan. Bagaimana tidak, saat memberikan sambutan pembukaan acara Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah bertajuk Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Akuntansi Pemerintahan dalam Mendukung Pertanggungjawaban Keuangan Negara di salah satu hotel berbintang di bilangan Senayan, Jakarta, Rabu (16/7), Kalla yang terkenal terbuka ini secara lugas menyatakan bahwa keuangan negara Indonesia yang bernilai triliunan dikelola layaknya mengelola keuangan toko. Kisah ini bermula saat Jusuf Kalla yang berduet dengan Susilo Bambang Yudhoyono berhasil memenangkan Pilpres 2004 lalu. Jabatan Wakil Presiden sontak dimiliki Jusuf Kalla atas kemenangan di Pilpres 2004, mengalahkan jago PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri dan Hasyim Muzadi.
DALAM memimpin Indonesia, Wakil Presiden Jusuf Kalla memiliki sekelumit cerita jenaka, namun penuh kekonyolan. Bagaimana tidak, saat memberikan sambutan pembukaan acara Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah bertajuk Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Akuntansi Pemerintahan dalam Mendukung Pertanggungjawaban Keuangan Negara di salah satu hotel berbintang di bilangan Senayan, Jakarta, Rabu (16/7), Kalla yang terkenal terbuka ini secara lugas menyatakan bahwa keuangan negara Indonesia yang bernilai triliunan dikelola layaknya mengelola keuangan toko. Kisah ini bermula saat Jusuf Kalla yang berduet dengan Susilo Bambang Yudhoyono berhasil memenangkan Pilpres 2004 lalu. Jabatan Wakil Presiden sontak dimiliki Jusuf Kalla atas kemenangan di Pilpres 2004, mengalahkan jago PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri dan Hasyim Muzadi. Tak lantas berbesar kepala dengan jabatan di tangan, Kalla yang terlibat dalam penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) memilih untuk mengoptimalkan perbaikan sektor ekonomi yang remuk dihajar krisis.
"Begitu saya diangkat menjadi Wakil Presiden, mungkin karena kebiasaan sebagai pengusaha maka saya ingin mengetahui berapa kekuatan kita ini, pemerintah ini. Karena itu, menteri pertama yang saya undang adalah menteri keuangan, Jusuf Anwar. Saya ingat betul ini lima hari setelah pelantikan," ungkapnya.
Dengan nada mulai meninggi, pria kelahiran Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942 lalu ini kembali mengantarkan peserta untuk menengok peristiwa yang terjadi pada dirinya.
"Saya bilang Pak Jusuf Anwar, saya ingin mengetahui berapa uang kita ini sehingga kita bisa menjalankan pemerintah dengan baik. Biasanya kalau kita pengusaha begitu. Hal utama yang ditanyakan berapa kas hari ini. Ini supaya kita tahu, jangan-jangan perintahkan proyek tidak jalan," ujarnya.
"Setelah itu, datanglah Menteri Keuangan didampingi Pak Dirjen Pembedaharaan Mulia P Nasution untuk memberikan laporan itu," lanjut Kalla.
Mantan Menko Kesra yang telah lama malang melintang dalam dunia bisnis bersama NV. Hadji Kalla (perusahaan warisan milik sang ayah) ini dalam waktu tak lama melumat isi laporan keuangan yang diberikan kepada dirinya ini. Hasilnya, tak terduga. Kalla merasa laporan keuangan negara yang dikenal gemah ripah loh jinawi ini dibuat bak seperti toko.
"Saya terkejut sekali bahwa laporan itu sama dengan laporan toko. Saya minta laporan lebih baik lagi," tutur Kalla yang mendapat tawa dari peserta.
Atas permintaan Kalla, laporan keuangan kemudian diperbaiki. Selesai diperbaiki, Mulia P Nasution berangkat ke kediaman dinas Kalla. Tak seperti sebelumnya, Mulia justru datang seorang diri tanpa Menteri Keuangan Jusuf Anwar.
"Cuma Mulia yang datang. Dan mungkin karena Mulia gugup, saya bertanya apakah kita mempunyai macam-macam. Ternyata, saya lebih marah lagi karena laporan justru digabung- gabung. Ada dana dollar sekian, yen sekian, poundsterling sekian, euro sekian, dan kemudian ditotal jadi satu. Saya bilang ini sama dengan jambu tambah apel tambah kambing tambah kerbau lalu ditotal," urainya.
Kemarahan mantan Menko Kesra memuncak. Laporan keuangan yang berada dalam genggaman tangan di lempar, sambil terus menumpahkan amarah dengan kata-kata kepada diri Mulia. "Ini laporan departemen keuangan apa kalau begini laporannya. Masa nggak mengerti berapa kekuatannya bangsa ini," jelasnya.
Semenjak kemarahan itu, perbaikan laporan keuangan menjadi amanah Kalla kepada Departemen Keuangan. Tak ingin kena semprot, Depkeu pun menggelar seminar tentang sistem akutansi pemerintahan bertempat di gedung Istana Wapres, Jakarta.
"Mungkin karena saya yang marah, diresmikannya acara di kantor saya. Saya tanya, kenapa di kantor saya? Dan dijawab agar saya tahu bahwa baru ada sistem akuntansi pemerintahan," pungkasnya.
Sejak acara tersebut, pembenahan sistem akuntansi dan laporan keuangan serta ditambah adanya UU yang mengatur mengenai hal keuangan negara di tubuh pemerintahan, akutansi dan laporan keuangan negara mulai tertata.
"Saya berterimakasih bahwa dengan sistem ini kita sudah lebih bisa cepat memantau bagaimana keadaan keuangan kita. Sebenarnya sistem kita memang gampang-gampang susah. Susah karena makin besar anggaran ini. Awal pemerintahan APBN kita baru Rp 300 triliun, sekarang sudah Rp 1000 triliun, pasti pembukuannya lebih sulit. Namun karena sistem, teknologi, maka semakin mudah," sergahnya.
Meski berbicara dengan kesungguhan hati bak orator ulung, Kalla sempat juga melempar guyonan perihal laporan keuangan yang sempat diminta dari Mulia.
"Laporan Pak Mulia itu, saya simpan. Itu untuk membuktikan bahwa bagaimana konyolnya kita ini punya administrasi yang tidak mengetahui berapa kekuatannya," katanya seraya menegaskan, seorang pengelola keuangan mesti bersikap konservatif.
"Saya bilang Menteri Keuangan harus berpikir konservatif. Kalau dulu di perusahaan saya, kalau direktur keuangan saya tidak konservatif saya pecat. Bersikap konservatif itu, kalau orang minta uang atau ditagih, berbicara bagaimana kalau besok atau bisa cicil. Dan begitu nagih pasti cepat. Kita harus begitu," tandasnya.
Ade Mayasanto, Dalam Riak Sepercik Jalan Pengorbanan
Label: humaniora
Diposkan oleh @de di 8:14 PM 0 komentar Link ke posting ini
Langgan:
Entri (Atom)

