• Ngeteh yu..

      Name :
      Web URL :
      Message :

      Maman Gugup Hadapi Pansus Century

      TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Maman Soemantri terlihat sangat tenang keluar dari ruang persidangan Panitia Khusus bank Century DPR RI, Rabu (6/1) siang. Mengenakan gaun batik corak berlengan panjang, Maman diapit empat anggota polisi, melenggang santai menuju ruang sekretariat pansus DPR di lantai III gedung DPR RI.
      Raut wajah Maman berbeda ketika memberi kesaksian di hadapan anggota Pansus. Maman gugup, dan bahkan dalam kegugupannya mencari data-data yang diminta pansus, Maman sempat ditolongan rekannya, Maulana Ibrahim. "Orang ada di tahanan, bagaimana mau bisa baca selengkap mungkin," kata Maman Soemantri perihal kegugupannya saat berhadapan dengan anggota maupun pimpinan pansus skandal Bank Century di gedung DPR, Jakarta, Rabu (6/1). Maman menjelaskan, dokumen-dokumen pendukung yang dibawanya ke ruang pertemuan baru sampai seminggu sebelum Pansus DPR memanggilnya. Namun demikian, dia merasa cukup siap untuk memberi kesaksian. "Pokoknya saya jalanin saja. Dan saya jawab pertanyaan semampu saya. Itu kan bidang saya, saya jawab seperti apa yang saya kerjakan di bidang pembidangan saya," ungkapnya dengan senyum. Di tempat serupa, mantan Kepala Biro Gubernur Bank Indonesia, Rusli Simanjuntak mengaku hanya membaca sekali sejumlah dokumen BI soal merger di dalam sel Rutan Salemba guna menghadapi pemeriksaan Pansus Angket Century di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (6/1). "Enggak bolak-balik bacanya, cuma sekali doang," kata Rusli Simandjuntak di sela-sela pemeriksaan Pansus. Rusli mengatakan tidak ada pesan khusus dari keluarga sebelum menghadapi cecaran pertanyaan Pansus. Istri dan anaknya hanya mendukungnya lewat doa. "Keluarga cuma doain aj," singkatnya. Tahanan yang tersandung kasus pengucuran dana desiminasi Yayasan Pengembangan Bank Indonesia (YPPI) Bank Indonesia senilai Rp 100 miliar ini mengaku tidak merasa ada kebijakannya yang salah darinya saat pramerger, merger, dan pascamerger Bank Century. "Nggak lah," katanya. Saat ditanya, kenapa soal merger ini berkelanjutan menjadi megaskandal seperti sekarang ini, ia jawab, "Ini ibarat irama kehidupan. Tuhan lah yang mengatur kehidupan ini. Kita yang jadi bagiannya di situ." Dalam kesehariannya di dalam sel, Rusli kini lebih mendekatkan diri dengan Sang Pencipta. Terkadang, ia bangun tengah malam untuk sholat. "Di dalam saya sholat, baca Al Qur'an, dan dzikir juga," pungkasnya. Ketika disinggung apakah sempat merasa tertekan atas pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Pansus DPR, Maman menjawab dengan tangkas. "Tidak tertekanlah, bebas orang mau tanya apa saja," ujarnya. Maman Soemantri merupakan sejawat besan SBY, Aulia Pohan yang terlibat pencairan dana Rp 100 miliar dari Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) dan BI tahun 2003. Saat ini, Maman ditahan satu blok dengan Aulia Pohan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Maman dipanggil pansus angket century karena diduga mengetahui proses merger tiga bank CIC, Pikko, dan Danpac menjadi bank Century pada 2002. Pemanggilan dilakukan bersamaan dengan pejabat BI lainnya, yakni mantan Deputi Gubernur Maulana Ibrahim, dan mantan Direktur Pengawasan Bank I Bank Indonesia, Rusli Simanjuntak. *** Merger Dibahas 2001 Dalam keterangannya kepada pansus, Maman mengemukakan, merger tiga bank menjadi Bank Century pada 2004 merupakan kelanjutan dari hasil rapat dewan Gubernur pada 27 November 2001. Berdasarkan RDG tahun 2001, izin prinsip akuisisi CIC, Pikko, dan Danpac diberikan kepada Chinkara Capital dalam rangka merger dengan beberapa persyaratan. "Jadi sepanjang pemahaman saya, izin itu sudah dilakukan pada RDG 2001," kata Maman pendek. Penjelasan Maman memicu salah anggota Pansus asal Partai Golkar Melchias Marcus Mekeng menggali lebih dalam. Melchias mempertanyakan sejauhmana Maman mengenal Chinkara Capital sebagai pihak yang mengakusisi Bank CIC, Pikko, dan Danpac. "Saya tidak tahu masalah Chinkara. Pada 2001, saya belum menjadi anggota dewan gubernur BI," jelasnya. Maman menyebut, pada Januari 2001 dirinya baru saja menjadi Kepala Perwakilan BI London dan Komisaris (ex officio) Bank Indover, Amsterdam. Dia kembali ke Indonesia karena diangkat selaku Direktur Direktorat Penelitian dan Pengaturan Perbankan, Bank Indoensia. Setahun kemudian, barulaha Maman dilantik menjadi Deputi Gubernur bidang Penelitian, Pengaturan dan Perizinan. "Jadi setelah RDG 2001, saya hanya memantau apa saja yang dikerjakan selanjutnya," ungkapnya seraya mengatakan, meski mengurusi perizinan akuisisi, namun pihak direktorat pengawasan yang menilai kelayakan suatu bank. "Direktorat perizinan hanya dari sisi administrasi saja. Tapi ada prosedur yang dilakukan untuk merespon dan mengecek rekomendasi dari direktorat pengawasan dengan berkoordinasi dengan direktorat hukum BI," paparnya. Penjelasan Maman tidak diterima Melchias. Melchias menganggap, penjelasan Maman tidak masuk akal lantaran BI memberikan izin akuisisi kepada Chinkara. "Artinya dewan gubernur lalai, karena tidak punya kemampuan menolak merger mengingat Chinkara patut dipertanyakan," kata Melchias. Lain hal dengan Maman Soemantri. Mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Maulana Ibrahim menyebut pendapatnya terhadap rencana merger tiga bank menjadi Bank Century telah dipotong mantan Direktur Pengawasan BI Sabar Anton Tarihoran. Sabar Anton dinilai Maulana tidak mengutip keseluruhan pendapat yang tertuang dalam catatan rahasia tertanggal 19 April 2004. "Pendapat saya panjang, tapi cuma diambil sebagian," katanya. Maulana mengatakan, hal ini menyebabkan, pendapatnya justru dipahami secara tak utuh terkait catatan Sabar yang membeberkan pertemuan mantan Dewan Gubernur Senior Anwar Nasution, mantan Deputi Gubernur Aulia Pohan bersama pemegang saham Bank Pikko, Danpac dan CIC. Maulana menyebut, dalam catatan tangannya ini mengemukakan pendapat tentang merger tiga bank mutlak diperlukan dan jangan menunggu, harus pro aktif, dan lebih cepat, lebih baik. Namun bagi Wakil Ketua Panitia Khusus (Pansus) Bank Century dari Fraksi PDI Perjuangan, Gayus Lumbuun pendapat Maulana tersebut janggal. Maulana disebut mempunyai motif atas pendapatnya tersebut. "Kejanggalan yang saya temukan, apakah wajar bapak bisa buat disposisi karena posisi bapak di bawah Gubernur BI," tanya Gayus. (coz/ade)

      Besan SBY Kelelahan

      TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Aulia Pohan kelelahan menjalani pemeriksaan Panitia Khusus (Pansus) Bank Century DPR RI, Selasa (5/1). Ia ditanyai selama lebih dari 3 jam selaku Deputi Gubernur Bidang Pengawasan Bank Indonesia (BI) mengenai dugaan kesalahan prosedur merger Bank Century. Seusai menghadapi cecaran pertanyaan dari anggota Pansus, ia pun makin ngos-ngosan menjawab pertanyaan wartawan.

      "Capek aku, capek aku. Sudah, sudah yah," kata Aulia Pohan terlihat jelas kelelahan usai keluar dari ruang sidang Pansus Bank Century di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (5/1) siang.
      Usai diperiksa Pansus Angkey Century, tak banyak komentar yang disampaikan Aulia Pohan kepada wartawan, fotografer dan kameramen sudah siap siaga di depan ruang pemeriksaan Pansus menanti Aulia keluar. Pertanyaan bertubi-tubi dilayangkan hanya beberapa yang ia jawab. Aulia (65 tahun) saat ini divonis 4 tahun 6 bulan penjara karena terbukti korupsi bersama-sama Gubernur Bank Indonesia dan deputi lainnya atas dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) Bank Indonesia sebesar Rp 100 miliar. Saat ini dia mendekam di Rutan Brimob Kelapa II Depok, Jawa Barat.

      Meski Aulia mengaku lelah, wartawan masih mengejarnya dengan memberondong pertanyaannya. Dikawal personel Pengaman Dalam (Pamdal) Gedung DPR, Aulia bersusah-susah menghindari wartawan. wartawan yang berdesakan bahkan menginjak kakinya sehingga sampai terpincang-pincang.

      "Gue kan sudah ditahan, kok masih aja diuber-uber," keluhnya mengaduh sembari berlalu dengan terpincang-pincang.

      Ia mengaku sudah mengungkapkan semua hal yang diketahuinya kepada Pansus, tidak satu pun yang ia sembunyikan. "Sudah diterangkan semua," ujar Aulia sembari ngos-ngosan.  

      Pemeriksaan terhadap besan Presiden Susilo Bambang Yodhoyono ini berlangsung sekitar 3 jam sjak pukul 11.00 WIB hingga pukul 14.10 WIB. Tak khayal hal itu membuatnya keletihan yang luar biasa. Ia kembali tegaskan memang tak tahu-menahu soal keputusan merger Bank Pikko, CIC Internasional, dan Bank Danpac menjadi Bank Century 6 Desember 2004. "Saya tidak tahu," cetusnya. 

      Usai berhasil menghindari kejaran wartawan, Aulia diungsikan ke ruang rapat pimpinan Pansus di Lantai 3 Nusantara II DPR untuk disuguhi makan siang. 

      Besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini akhirnya memenuhi panggilan Panitia Khusus (Pansus) Bank Century DPR RI setelah pada panggilan perdana, 21 Desember 2009, berhalangan. Sebelum ditanyai Pansus, ia sempat mampir ke ruangan rapat pimpinan Pansus di Lantai 3 Gedung Nusantara II DPR. 

      Seorang pegawai sekretariat Pansus DPR RI mengatakan, ruang yang disinggahi Aulia adalah ruangan Kepala Bagian Sektretariat Pansus DPR di Gedung Nusatara II. Ruangan berfungsi semacam ruang tunggu dengan fasilitas TV dan sofa. 

      Sedangkan sumber lain menyebut, Aulia sempat mampir ke ruangan pimpinan Pansus. Ketua Pansus DPR RI Idrus Marham yang berada di belakang Aulia Pohan saat memasuki ruang sidang membantah telah berpertemu dan mengadakan pembicaraan sebelum sidang dimulai. 

      "Saya tidak menjemput Aulia. Bertemu saja, saya belum," ujar Idrus sebelum mulai acara.

      Aulia terlambat 45 menit. Akibatnya, pemeriksaan molor satu jam dari jadwal pukul 10.00 WIB menjadi pukul 11.00 WIB. Ia memasuki ruang sidang Pansus dikawal sejumlah petugas dari Pamdal DPR dan anggota Brimob. Setibanya di ruang sidang Pansus, Aulia tersenyum, dan mengaku siap meladeni semua pertanyaan Pansus Century terkait merger tiga bank kecil, yakni Bank Pikko, CIC, dan Bank Danpac menjadi Bank Century. 

      "Saya tidak deg-degan," kata Aulia Pohan, ayah dari Annisa Pohan, menantu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sembari tersenyum. 

      Mengenakan batik berwarna biru, Aulia mengaku sudah menyiapkan sejumlah dokumen untuk menghadapi cecaran pertanyaan anggota Pansus DPR. "Dokumen sudah cukup lah," ujar Aulia sembari menunjukkan sebuah tas hitam berisi kertas berlembaran-lembar. 

      Banyak pertanyaan Pansus Angket Century DPR yang tidak bisa dijawab oleh mantan Deputi Gubernur Bidang Pengawasan BI Aulia Pohan. Ia lebih banyak mengatakan tidak tahu dan tidak terlibat langsung pengambilan kebijakan merger Bank Century. Menurut Aulia, dia merasa sedih karena masalah merger Century menjadi kasus yang berkepanjangan sehingga dirinya dipanggil Pansus. "Saya sedih, kenapa masalahnya kok jadi begini," kata Aulia Pohan saat ditemui di ruangan rapat Pimpinan Pansus Gedung Nusantara II DPR. 

      Saat diperiksa Pansus, Aulia mengaku tidak menyesal dengan tetap melanjutkan permohonan proses merger Bank Century kepada Gubernur BI Burhanuddin Abdullah. Ia mengaku tidak terlibat langsung pengambilan keputusan merger Bank Pikko, CIC dan Danpac karena sudah pensiun sejak 2005. 

      Namun alasan Aulia agak ganjil. Mantan Deputi Senior Gubernur BI, Anwar Nasution mengatakan izin merger Bank Danpac dan Pikko ke dalam CIC diberikan BI pada 6 Desember 2004, 6 bulan setelah Anwar pensiun dari BI. Anwar menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior BI (DGS BI) antara bulan Juli 1999 hingga Juni 2004. 

      Dengan persetujuan Departemen Hukum dan HAM 14 Desember 2004, gabungan usaha ketiga bank tersebut kemudian diberi nama menjadi Bank Century. Century dikendalikan tiga orang pemegang saham utama yakni Rafat Ali, Robert Tantular dan Alwarrag Hesham Tallat. Rafat memiliki saham diketiga bank tersebut yang kemudian dikontrol melalui Chinkara Capital yang didirikan pada 8 Oktober 1999. Bahkan, kata Anwar, sejak 27 November 2001, pertama kalinya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) dibahas mengenai pembentukan Century terkait permohonan strategic merger ketiga bank tersebut. 

      Saat ditanya, bukankah laporan BPK menyatakan bank Pikko, CIC dan Danpac sudah bermasalah sebelum dan pada saat merger, Aulia mengatakan, "Ini kan soal politik. Lagi pula tadi (anggota Pansus) banyak yang nggak ngerti. Apaan, tadi ada yang lihat SMS segala (untuk bahan pertanyaan, Red)." 

      Pengamanan Dalam Gedung DPR dibantu pengawal dari Brimob memang sengaja mengungsikan Aulia ke ruang rapat pimpinan Pansus di Gedung Nusantara II DPR. Di ruangan itu, besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini disuguhi makan siang sebelum dibawa kembali ke tahanan Mako Brimob Depok. 

      Dari Mako Brimob Depok, Aulia --terpidana 4 tahun 6 bulan dalam kasus korupsi-- diangkut menumpang mobil dinas polisi Nissan X-Trial berwarna hitam, bernopol B 1200 GQ, bukan dengan mobil tahanan. Mobil itu tanpa ada teralis besi pengaman, sebagaiamana layaknya mobil dinas polisi untuk seorang tahanan. 

      Bahkan, pengamanan terhadap besan Presiden Yudhoyono ini tidak terlalu ketat, hanya dikawal 2 anggota polisi berpakaian batik dan safari hitam. "Nggak ada pengawalan istimewa kepada beliau," ujar salah satu polisi yang mengawal Aulia Pohan. 

      Sebelumnya, kedatangan Aulia Pohan di Gedung DPR sangat tiba-tiba. Hampir seluruh wartawan yang menunggunya tak tahu, Aulia diangkut dengan mobil apa. Bahkan, ia sempat singgah sekitar 15 menit di ruangan yang sama, yakni ruang rapat pimpinan Pansus, sebelum memasuki ruang pemeriksaan Pansus. 

      *** 
      Pamerkan Foto Cucu Senyum selalu keluar dari bibir pria berkacamata ini. Sesekali dia mengacungkan jempolnya. Ia juga memamerkan tas bergambar foto cucunya, Almira Tunggadewi Yudhoyono yang disamblon di bagian luar tas. 

      Ukuran foto lumayan besar, kira-kira 25 X 30 cm. Tas ini merupakan cendera mata atau kenang-kenangan ulang tahun Ke-1 Almira yang lahir 17 Agustus 2008. Saat memerkan foto cucunya, putri Annisa Pohan dan Agus Harimurti Yudhoyono, Aulia membiarkan para juru foto mengabadikan dirinya menunjuk potret Almira yang mengenakan bando. Tak lama kemudian, rapat pansus dimulai. 

      Pada pemanggilan pertama Pansus, Aulia tak menghadirinya alasan sakit. Ada juga yang mengabarkan ada masalah administrasi perizinan dari tahanan di Mako Brimob Kelapa II Depok. Namun, kali ini ia bersedia hadir. Tak nampak bahwa dirinya sedang sakit. Ia terlihat sehat dan gemuk. Saat ditanya, apakah dirinya dalam keadaan sehat, ia katakan, "Alhamdulillah, sehat." 

       Aulia mantan Ketua Dewan Yayasan Pembina YPPI serta koordinator Lembaga Penjamin Sosial Kemasyarakatan (LPSK), divonis 4 tahun 6 bulan 17 Juni 2009. Aulia beserta Dewan Gubernur Bank Indonesia terbukti mengorupsi uang milik Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) Bank Indonesia sebesar Rp 100 miliar. 

      Uang itu digunakan Dewan Gubernur BI memperkaya orang lain yakni anggota DPR RI periode 1999-2004 dan aparat penegak hukum sehingga dianggap melanggar pasal 2 ayat 1 UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Korupsi. 

      Kemunculannya di Gedung DPR memang secara tiba-tiba. Banyak wartawan yang tidak mengetahui dengan mobil apa ia dibawa dari tahanan Mako Brimob Depok. Menuruti informasi yang diperoleh Persda Network, Aulia sudah tiba di gedung DPR pukul 10.45, dan dalam waktu itu ia berada di ruang rapat pimpinan Pansus di Lantai 3 Gedung Nusantara II DPR. 

      Belum diketahui, siapa saja dan apa yang dibicarakan dalam ruang itu. Saat duduk di dalam ruang pemeriksaan memasuki ruang pemeriksaan, ia duduk tenang. Bahkan, di hadapan puluhan wartawan foto dan kamerawan, ia sempat memamerkan tas cangklong bergambar cucunya, Almira Tunggadewi Yudhoyono alias Aira. Selanjutnya, Aulia diminta bersumpah. Dan pemeriksaan pun dimulai. 

      Kedatangan Aulia Pohan memang sudah ditunggu Pansus sejak pukul 10.00 WIB sebagaimana jadwal pemanggilan. Anggota DPR Komisi I dari fraksi Demokrat, Ramadhan Pohan termasuk yang menanti kedatangan Aulia. Ramadhan sempat bolak-balik dan bertanya-tanya kepada beberapa temannya dari tim Pansus. Namun, jawaban mereka juga tak dapat memuaskan Ramadhan, karena mereka juga tidak tahu apakah Aulia bisa hadir. Ramadhan memang bukan anggota Pansus. Namun ia mengaku hendak bertemu besan SBY, itu semata-mata untuk memberi dukungan moral kepada Aulia sebagai saksi terperiksa Pansus. 

      "Untuk memberikan dukungan moral kepada Pak Aulia," kata Ramadhan Pohan. Dan kebetulan mereka sama-sama marga Pohan, asal Sumatera Utara. 

      Ramadhan mengungkapkan, Aulia dan dirinya bukan keluarga dekat, tapi hanya satu marga. Menurutnya, Aulia Pohan keturunan generasi urutan ke-15 dari Marga Pohan, sedang Ramadhan urutan ke-12. 

      *** 

      Perang Mulut Rapat marathon digelar Pansus Bank Century hingga Selasa malam. Seusai memeriksa Aulia, Pansus memeriksa mantan Deputi Direktur Pengawasan Bank I, Sabar Anton Tarihoran (SAT). Pemeriksaan berlangsung seru karena Sabar menjawab 'tidak ingat' beberapa pertanyaan anggota pansus angket DPR. 

      Misalnya, Anggota pansus Hendrawan Supratikno (PDIP) menanyakan apakah Sabar pernah diundang mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah pada acara syukuran di kediamanan Abdullah. Sabar menjawab, "Tidak pernah." 

      Hendrawan mengingatkan Sabar dengan menyebutkan mobil yang digunakan beserta nomor platnya. Sabar tetap menjawab tidak ingat, dan diimbuhi, "Wah, sudah makin jauh Pak." 

      Mendengar jawaban itu, Wakil Ketua Pansus (PDIP) Gayus Lumbuun langsung menghardik Sabar. "Saksi ditegur. Tolong jawab saja ya dan tidak tanpa mengata-ngatai yang bertanya," jelasnya. 

      Anggota Pansus dari Partai Demokrat Ruhut Sitompul segera menyambar. Dengan gayanya yang meledak-ledak, ia menampik teguran Gayus. Ruhut membela Sabar untuk tetap menjawab sesukanya.

      "Terserah saksi, silakan ngobrol saja," katanya. 

      Adu mulut Gayus versus Ruhut pun berlangsung ramai. "Tidak ada lelucon, ini hak saksi," tambah Ruhut. 

      Gayus menimpali dan mengatakan kepada Sabar, "Dengar, Anda didukung Partai Demokrat." 

      Akhirnya Wakil Ketua Pansus (Partai Demokrat), Yahya Sacawiria ikut marah kepada Gayus. "Kalau anda tidak menghormati saya, saya akan mundur sebagai pimpinan," katanya lalu suasana mendingin kembali. (coz/ade)

      Pansus Terbelah Karena Aulia Pohan

      TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jawaban mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Aulia Tantowi Pohan membelah anggota Pansus Bank Century. Khususnya masalah izin prinsip akuisisi terhadap Bank CIC, Pikko dan Danpac menjadi Bank Century pada 2004. Ada yang berniat mengkonfrontir Aulia dengan mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah.Dan ada yang menilai cukup penjelasan dari Aulia Pohan selama tiga jam sejak pukul 11.00 WIB.

      Kelompok yang meminta pemanggilan kembali Aulia Pohan disuarakan anggota Pansus DPR RI asal Partai Golkar Bambang Soesatyo. Bambang menilai, perbedaan pandangan Aulia Pohan dan Burhanuddin mesti dijelaskan pada pertemuan yang menjadwalkan konfrontasi para saksi.
      "Jawaban ini meyakinkan kita bahwa ada ketidakberesan di proses merger. Minggu ketiga Januari sampai awal Februari, kita akan konfrontir Burhanuddin dengan Aulia, dan mungkin juga antara Anwar Nasution dengan Miranda S Goeltom," ujar Bambang Soesatyo di gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (5/1).

      Menurut Bambang, hal lain yang menjadi landasan pemanggilan Aulia adalah terkait banyaknya jawaban Aulia yang dinilai tidak bertentangan. "Aulia pohan mengakui ada pengawasan yang kurang dalam merger sehingga tidak layak merger dilakukan. Tapi yang menjadi pertanyaan, dia ini mendorong, promotor memberi izin prinsip. Jadi banyak hal yang kontraproduktif," urainya. 

      Hal senada dikemukakan Wakil Ketua Pansus, Gayus Lumbuun. Anggota DPR RI asal PDIP ini menilai, banyak hal yang ditutupi Aulia terkait kebijakan Bank Indonesia melakukan penggabungan tiga bank bermasalah menjadi bank Century. 

      "Dia selalu beralasan sudah berhenti sebagai deputi tahun 2004 . Ini ironis. Walau terakhir menjabat tahun 2004 , sebagai deputi Gubernur BI, sebuah persoalan seharusnya menjadi pengetahuan yang bersangkutan," katanya. 

      Masalah yang menjadi pertanyaan, lanjut Gayus adalah kesaksian yang diberikan ternyata lebih banyak tidak tahu, dan kerap melempar masalah akuisisi dan merger ke tingkat bawah. "Mereka sering menjawab tidak tahu atau bukan bidangnya. Padahal rapat Dewan Gubernur itu sifatnya kolektif, tidak masing-masing bidang. Ini yang ingin kami kejar lebih dalam," paparnya. 

      Wakil Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP) M Romahurmuzy menjadi salah satu anggota yang berbeda pendapat dengan Bambang maupun Gayus. Menurut dia, tidak perlu pansus memanggil Aulia dan kemudian melakukan konfrontasi. "Ini hanya masalah kelonggaran ketentuan yang dimiliki BI. Dan saya kira sangat terang, kita justru akan tingkatkan temuan ini dalam rekomendasi pansus," sergahnya. 

      Romahurmuzy menilai, hal yang akan direkomendasikan adalah perihal empat sosok yang memuluskan proses akuisisi yang berlanjut merger Bank Century terjadi. Mereka ini adalah mantan Dewan Gubernur Senior Anwar Nasution, mantan Deputi Gubernur Aulia Pohan, mantan Direktur Informasi dan Perizinan Perbankan Bank Indonesia (BI) Siti Fadjrijah dan Mantan Direktur Pengawasan Bank I Bank Indonesia Sabar Anton Tarihoran. "Mereka bertanggungjawab atas mulusnya merger Bank Century," tandasnya. (Ade Mayasanto)

      Tiga Hari Aulia Siapkan Diri

      TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - PERSIAPAN diri besan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Aulia Tantowi Pohan untuk memberikan keterangan di Panitia Khusus (Pansus) Bank Century terbilang pendek. Untuk mengingat kembali peristiwa penggabungan Bank CIC, Bank Danpac dan Bank Piko menjadi Bank Century, Aulia hanya diberi waktu tiga hari. "Bahan saya baca dalam waktu tiga hari," ujar mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia Aulia Pohan usai menjalani sidang pansus di gedung DPR RI, Jakarta, Selasa (5/1).
      Tampil dengan baju batik berwarna biru, Aulia yang hanya dikawal dua polisi tampak santai usai memberikan keterangan di Pansus. Pamdal gedung DPR RI ikut mengamankan ayah dari Anisa Pohan ini ketika Aulia kembali menuju ruang pimpinan Pansus yang terletak di lantai III DPR RI. Tak ada pimpinan dan anggota Pansus Century yang mendampingi Aulia. Dengan senyum mengembang, ketika ditanya apakah sudah merasa lega setelah menjalani pemeriksaan, Aulia pun menjawab sekenanya. "Bagaimana tadi, sudah baguskan. Tapi ya sudahlah," paparnya. Berbekal data dari Bank Indonesia, Aulia membeberkan proses merger Bank Century selama tiga jam sejak pukul 11.00 WIB. Lantaran menunggu kehadiran Aulia yang dijadwalkan hadir pukul 10.00 WIB, anggota Pansus memilih melakukan rapat nternal. Tak ada anggota Pansus yagn meninggalkan ruang sidang, meski Aulia datang terlambat. Tolak Bertanggungjawab Usai bersumpah di bawah kitab suci Al Qur'an, Aulia Pohan menolak dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas penggabungan tiga bank CIC, Pikko dan Danpac menjadi Bank Century pada 2004. Pasalnya, izin prinsip akuisisi tersebut lahir secara kolektif bukan individual. "Saya tidak pernah memberikan izin prinsip. Merger itu keputusan rapat dewan gubernur," katanya. Pernyataan Aulia ini menjawab pertanyaan anggota pansus dari Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo. Bambang mencoba mengkros-cek keterangan mantan Gubernur BI Burhanuddin Abdullah. Dalam pemeriksaan sebelumnya, Burhanuddin menyebutkan izin prinsip merger tiga bank dikeluarkan Aulia Pohan. Saat itu, Aulia menjabat sebagai Deputi Gubernur BI yang membawahi soal informasi, perizinan, dan pengawasan di BI. Lebih lanjut Aulia menjelaskan, proses akuisisi tiga bank yang berlanjut ke tahap merger ini disetujui dan kemudian diputuskan melalui rapat dewan gubernur. Jawaban Aulia yang tidak sama dengan Burhanuddin kembali dipertanyakan Bambang. Dengan lugas, Aulia justru mempersilahkan Bambang mempertanyakan jawaban Burhanuddin kembali yang tidak sinkron dengan jawaban dirinya. "Tanya ke dia (Burhanuddin) dong," sela Aulia. Jawaban Aulia menyulut emosi Bambang. Bambang meminta pimpinan pansus menghadirkan Burhanuddin dan Aulia untuk dikonfrontasi. Masalah izin akuisisi juga sempat dipertanyakan anggota pansus DPR RI asal Partai Golkar Agun Gunanjar Sudarsa. Agun mempertanyakan, alasan akuisisi hingga merger terhadap tiga bank yang dinilai layak untuk ditutup. "Saya tidak dilibatkan dalam akuisisi. Jadi saya tidak mengerti secara detail," papar Aulia Pohan. Aulia menambahkan, dirinya juga tidak mengikuti rapat pimpinan terkait merger Bank Century pada tanggal 18 April 2004 yang membahas tindak lanjut merger berdasarkan Keputusan Dewan Gubernur BI pada akhir 2001. Sepengatahuan Aulia, persyaratan merger layak lantaran sejumlah hal dipenuhi kendati Bank CIC memiliki banyak masalah. "Bank CIC waktu itu banyak masalah. Kita sendiri dilematis karena pemilik ketiga bank ini sama," tuturnya. Selain dimiliki pemilik yang sama, lanjut Aulia yang membuat proses merger berjalan terletak pada perkembangan terhadap ketiga bank ini. "Danpac bagus tapi kurang modal. Sementara CIC banyak masalah, tapi ketika kita minta diperbaiki, mereka perbaiki dan bisa," ungkapnya. Aulia Dituding Tak Jujur Pernyataan Aulia dihadapan pansus skandal bank Century sempat membuat sesama anggota pansus adu mulut. Anggota Pansus asal Partai Golkar Agun Gunanjar terlibat saling lontar pernyataan dengan anggota pansus asal Partai Demokrat Ruhut Sitompul hanya gara-gara ada pernyataan Aulia Pohan berkata tak jujur. Peristiwa ini terjadi saat Agun menyebut Aulia tak jujur dalam memberikan jawaban atas pertanyaan anggota pansus. "Katanya transparan? Kalau tidak mengetahui, apa yang bapak ketahui soal proses akuisisi? Bapak tidak jujur mengutarakan yang sebenarnya Bapak ketahui, tapi dilimpahkan kepada yang lain. Padahal, BI tidak prudent dalam memberi keputusan akuisisi dan merger," sergah Agun. Tudingan ini ditangkis Aulia. Aulia menyebut, tak tahu detil soal proses akuisisi. "Bukan melempar, tapi saya memang tidak tahu. Karena dari awal prosesnya saya tidak dilibatkan," paparnya. Selepas jawaban Aulia, Ruhut langsung melakukan interupsi ke pimpinan sidang yang dipegang Mahfudz Siddiq. "Tolonglah, di pansus ini jangan pakai unsur hate (kebencian). Kita tidak berhak menyatakan orang jujur atau tidak jujur. Marilah kita semua sesuai etika," kata Ruhut dengan nada meninggi yang kemudian dijawab dengan santai oleh Agun."Maaf, saya bicara atas nama pribadi. Itu hak saya untuk menyatakan orang jujur atau tidak jujur," timpal Agun. Wakil Ketua Pansus, Mahfidz Sidiq, yang menjadi pimpinan rapat menengahi. "Judgement itu memang hak masing-masing anggota. Kalau ngawur, biarkan publik yang menilai," tandasnya. (Persda Network/ade/coz)

      Obama Terpilih, SBY Sibuk Gelar Konpers


      Jakarta,--
      PRESIDEN Susilo Bambang Yudhoyono mempunyai cara tersendiri untuk mengapresiasi atau menyambut kemenangan Barack Obama selaku Presiden ke-44 Amerika Serikat. Meski sekedar memberi keterangan pers di hadapan wartawan, Presiden Yudhoyono meyediakan waktu khusus untuk memberi keterangan pers dalam dua bahasa, yakni bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.

      Tidak hanya soal bahasa yang berbeda, gelar keterangan pers dalam dua bahasa ini uniknya dilakukan di ruang yang berbeda. Untuk keterangan pers perdana, Presiden Yudhoyono memilih menggunakan bahasa Indonesia di ruang crudential Istana Merdeka (ruang depan Istana menghadap Monas). Sementara untuk keterangan pers kedua, Presiden Yudhoyono menyediakan waktu di ruang resepsi Istana Merdeka (ruang tengah) dengan menggunakan bahasa Inggris.

      Kesibukan tidak berhenti pada penggunaan ruang yang berbeda. Untuk mengafdolkan keterangan versi bahasa Inggris, Presiden Yudhoyono juga membutuhkan peralatan khusus. Alat itu adalah teleprompter (alat ini biasa digunakan penyiar saat membaca naskah berita).


      Penggunaan teleprompter ternyata tidaklah semudah membalik telapak tangan. SBY yang telah berpakaian rapi mengenakan jas hitam dan celana hitam, justru kikuk dengan teleprompter yang telah menyediakan naskah berisi selamat dan harapan Indonesia terhadap Presiden AS anyar, Barack Obama.

      Mula-mula, mantan Menko Polkam era Presiden Megawati Soekarno Putri ini membaca naskah yang akan disiarkan ke media. Di sela-sela membaca naskah tersebut, SBY justru lebih banyak mengeluh perihal tanda baca naskah yang tertera di teleprompter.

      "Terlalu banyak komanya ini, mengganggu," ujarnya dengan nada meninggi.

      Tidak ingin berspekulasi, dan memastikan pembacaan naskah berjalan ciamik, Presiden Yudhoyono mencoba membaca naskah di layar. "Saya mau baca sekali," papar SBY yang ditimpali Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng agar wartawan tidak merekam adegan pembacaan naskah ucapan selamat terhadap Obama.

      "Ini off the record," kata Andi.

      Presiden Yudhoyono pun melantunkan naskah yang tertera di layar teleprompter, dengan dibumbuhi 'olah tangan' SBY yang bergerak ke kanan, kiri, atas, bawah dan sebagainya. Selesai mencoba, Presiden Yudhoyono rupanya merasa kurang sreg. Presiden Yudhoyono pun meminta dua jubirnya agar mencobanya kembali.

      Namun belum juga Presiden Yudhoyono mencoba, tiba-tiba Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng meminta teknisi untuk memperbaiki latar SBY yang terlihat tak apik di kamera. Saat menengok televisi yang teronggok di sudut kanan Presiden Yudhoyono berdiri terdapat microphone yang menyembul di belakang latar SBY memberi keterangan pers.

      Menunggu perbaikan latar, dan mengisi keheningan, tiba-tiba Presiden Yudhoyono melempar kelakar. Soal Pilpres AS yang berjalan seiring Pilkada Jawa Timur, dan tata letak bunga mawar yang tak baik menjadi bahan guyonan SBY.

      "Sudah lama saya tidak menyanyi. Begitu krisis keuangan berlalu, saya akan menyanyi khusus untuk wartawan," tuturnya tertawa lebar.

      Selesai berkelakar, SBY pun melanjutkan ujicoba membaca naskah dengan alat teleprompter. Namun sial, ditengah-tengah naskah, lidah SBY justru keserimpret saat mengeja. Apesnya, justru Dino yang kena puntung atas keserimpet lidha SBY tersebut. "Dino ini ..kalau bisa dipersulit kenapa kita permudah," tandasnya sambil menyeka keringat yang terus menetes.

      Dino yang berada di sebelah kanan hanya mesem-mesem menerima pulung amarah SBY, dan kemudian bergegas mengubah tata bahasa ucapan selamat kepada Obama. Selang tak lama, Presiden Yudhoyono dengan serius membaca naskah 'sealami' mungkin. Hasilnya, ketika SBY mengakhiri pembacaan naskah, tepuk tangan pun bergemuruh.

      Seorang wartawan senior yang berada di samping Persda Network, usai melihat tingkah SBY berikut pembantunya, sempat mengutarakan pujian khusus dengan gaya SBY ini. "Walah, memang dasar penggila perfeksionis," ungkapnya dengan senyum melebar dan berlalu meninggalkan ruang crudential Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (5/11).(Persda Network/ade mayasanto)


      SBY: Silakan Periksa Keluarga Saya


      Rabu, 24 September 2008 | 19:53 WIB

      JAKARTA, RABU -
      Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya secara lugas mempersilakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kepolisian, kejaksaan, dan pihak pengadilan memeriksa anggota keluarga yang terlibat dalam masalah hukum.


      "Saya ingin memberi contoh untuk tidak menghalang-halangi siapapun yang menjalani pemeriksaan atau proses hukum kalau itu menyangkut katakanlah kedekatan entah keluarga, entah dalam pemerintahan, atau perkawanan dan sebagainya. Saya ingin ditegakkan betul keadilan ini. saya ingin penegakkan hukum pemberantasan korupsi terus berjalan," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono saat memberikan keterangan pers di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/9).


      Meski demikian, Presiden Yudhoyono masih juga belum merinci siapa anggota keluarga yang dipersilahkannya untuk diperiksa aparat hukum. Presiden Yudhoyono sekedar memberi sinyal perihal kasus korupsi yang saat ini tengah terbelit masalah hukum.


      "Saudara juga mengikuti banyak kasus-kasus pelanggaran hukum yang berkaitan dengan korupsi. Permintaan saya, harapan saya sebagai presiden kepada para penegak hukum, apakah kejaksaan, kepolisian, pengadilan, KPK, tegakkan hukum dengan sungguh-sungguh, adil bagi semua. Dan tidak ada yang perlu dilindungi, saya persilahkan," paparnya.


      Saat ini kerabat dan keluarga besar SBY yang tengah berada dalam masalah hukum dengan KPK adalah Aulia Pohan yang merupakan besan SBY. Aulia Pohan disebut-sebut Mantan Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah bertanggung jawab dalam prosedur pencairan dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia (YPPI) yang digunakan untuk diseminasi dan amendemen Undang-Undang Bank Indonesia. Pernyataan itu disampaikannya saat menjadi saksi dalam persidangan dengan terdakwa Hamka Yandhu dan Antony Zeidra Abidin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi kemarin.


      Menjawab pertanyaan ketua majelis hakim Mansurdin Chaniago, Burhanuddin menambahkan, Aulia juga bertindak sebagai koordinator dalam rapat Dewan Gubernur pada 22 Juli 2003. Dalam rapat itulah disetujui penggunaan dana Rp 100 miliar dari Yayasan untuk keperluan diseminasi dan bantuan hukum bagi para mantan pejabat bank sentral yang terbelit perkara Bantuan Likuiditas Bank Indonesia.


      Sidang tersebut juga menghadirkan Aulia Pohan sebagai saksi. Dalam keterangannya, Aulia mengakui pencairan dana bagi diseminasi politik dan amendemen Undang-Undang Bank Indonesia sangat penting. Aulia berkilah saat itu neraca keuangan Bank Indonesia dinilai dengan predikat disclaimer. (Persda Network/ade mayasanto)

      Bos Besar Mitsubishi Bertemu SBY

      Jakarta,--
      CEO Mitsubishi Corporation Yokiriko Kojima, Senin (22/9) siang bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta. Berlangsung selama satu jam, usai pertemuan Kojima memilih menghindar dari wartawan.

      Beruntung, Menteri Perindustrian Fahmi Idris bersedia memberikan keterangan pers perihal perbincangan yang dilakukan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan bos besar Mitsubishi Corporation yang terus bergiat pada investasi di Tanah Air.

      Fahmi kepada wartawan menegaskan, Mitsubishi Corporation berminat untuk menggenjot angka investasi yang ditanam di Indonesia. Dari yang semula US$4 miliar pada 2005, bakal membengkak menjadi US$13 miliar akhir tahun ini.

      "Presiden bertanya, bisa tidak dalam 2 tahun ini ditingkatkan? Mereka mengatakan, investasi Mitsubishi pada 2008 dalam berbagai bidang mencapai US$13 miliar. More than double kata Kojima," ujar Fahmi mencoba mereka ulang pembicaraan SBY dengan Kojima.

      Fahmi lebih lanjut mengatakan, Mitsubishi selama berada di Indonesia berminat untuk menanam investasi pada bidang otomotif. Di bidang kendaraan bermotor ini, Mistsubishi telah mempekerjakan sekitar 200 ribu tenaga kerja, dengan rekam jejak penjualan yang merangkak naik. Penjualan di tahun 2007, tercatat mencapai 60 ribu unit dan di tahun 2008 mencapai 150 ribu unit.

      Tidak hanya itu, Mitsubishi juga tercatat turut serta pada program listrik 10 ribu Mw. Dan uniknya, Mitsubishi ternyata ikut dalam proyek pengolahan gas alam cair Senoro mulai masuk tahap konstruksi awal tahun depan.

      "Khususnya di Senoro dan Donggi, akan diputuskan oleh pemerintah dalam waktu dekat," paparnya.

      Untuk diketahui, Mitsubishi Corporation merupakan pemilik mayoritas pembangunan kilang gas alam cair berkapasitas dua juta ton pada proyek pengolahan gas alam cai Senoro. Proyek itu merupakan integrasi dari proyek eksploitasi gas alam yang dikelola Medco Energi dan Pertamina. Ketiganya bergabung dalam Donggi Senoro LNG. Gas dari Kilang Senoro rencananya akan diekspor untuk kebutuhan pembeli di Jepang mulai tahun 2012.

      Menyangkut tudingan Mitsubishi telah melakukan kecurangan hingga berhasil menjadi pemilik mayoritas pembangunan kilang gas alam cair di Senoro-Donggi, Fahmi mengaku tidak mengetahuinya.

      "Nggak tahu tuh ya. Yang terang itu belum diputuskan," paparnya.

      Ketika ditanya apakah Kojima membahas masalah kecurangan yang akan diadukan ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan Presiden Yudhoyono, Fahmi justru menjawab sekenanya.

      "Implisit ya, tapi nggak jelas," sergahnya.

      Sebelumnya, pihak-pihak yang tergabung dalam konsorsium proyek pengolahan gas alam cair Senoro telah menyepakati formula harga gas yang mengikuti harga minyak. Harga jual gas ke kilang berkisar 9-12 dollar AS untuk harga minyak di atas 100 dollar AS.

      Penandatanganan pokok-pokok kesepakatan harga jual gas proyek Senoro dilakukan pada Jumat (29/8) di Jakarta. Proyek gas alam cair Senoro di Sulawesi Tengah merupakan proyek gas alam cair keempat di Indonesia setelah Arun, Bontang, dan Tangguh. Dengan masa kontrak 15 tahun, nilai penjualan gas dari Lapangan Matindok dan Senoro mencapai 16 miliar dollar AS.

      Suplai gas mayoritas akan berasal dari Lapangan Senoro yang dikelola bersama oleh Medco dan Pertamina (sekitar 250 juta kaki kubik per hari) dan Lapangan Matindok yang dimiliki 100 persen oleh Pertamina (sekitar 85 juta kaki kubik per hari).

      Para pihak juga telah menyepakati pasokan harga gas dari lapangan ke kilang akan mengikuti standar harga minyak Japan Crude Cocktail (JCC). Harga gas akan mencapai 9,75 dollar AS per MMBTU di harga minyak 100 dollar AS dan naik menjadi 12,15 dollar AS per MMBTU pada harga minyak 120 dollar AS. Harga jual gas alam cair akan memperhitungkan komponen biaya pembangunan dan biaya proses di kilang. Proyek Senoro membutuhkan investasi sekitar 1,4 miliar dollar AS.(Persda Network/ade)




      SBY Potong Nasi Tumpeng

      Rayakan Hut Ke-59

      PERAYAAN ulang tahun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke-59 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (9/9) sore berlangsung sederhana. Acara yang dipadukan dengan buka bersama dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan anggota Kabinet Indonesia Bersatu berikut keluarga sekedar memotong nasi tumpeng dan doa.

      Tanpa aluanan musik, potongan nasi tumpeng perayaan ulang tahun Kepala Negara selepas sholat magrib ini secara bangga diberikan Presiden Yudhoyono kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono.

      "Kalau ulang tahun kemerdekaan saya potong tumpeng, saya bagikan ke veteran. Sekarang ultah saya, saya akan kasih ke istri tercinta," ujar Kepala Negara dengan senyum melebar.

      Dengan didampingi duo putranya, Agus Harimurti dan Edhi Baskoro, Presiden Yudhoyono bercerita bahwa ulang tahunnya tersebut baru pertama kali dilakukan di Istana Kepresidenan.

      "Baru sekarang dilakukan di sini. Sebelumnya, saya ada di Sydney, Finlandia dan di luar daerah," tuturnya.

      Dalam kesempatan yang sama, Presiden Yudhoyono kepada istri anggota Kabinet Indonesia Bersatu dan keluarga menyatakan permohonan maaf lantaran kerap memanggil para menteri dalam tugas negara.

      "Usia KIB hampir 4 tahun, amat jarang menteri beserta ibu, putra dan cucu untuk berbincang. Kita meminta maaf kepada para ibu karena hari libur dan malam hari sering mengundang para menteri untuk melakukan pertemuan, sidang kabinet atau meninjau ke seluruh pelosok," paparnya seraya menegaskan kesalahan berada pada dirinya dan Jusuf Kalla sebagai Wakil Presiden.

      "Saya meminta maaf, jangan salahkan suami yang kadang-kadang kurang bersama keluarga. Yang disalahkan saya pertama, dan kedua Jusuf Kalla," tukasnya.

      Kepala Negara berharap, hal itu tidak mengurangi langkah anggota kabinet di pemerintahan yang tersisa setahun. "Kita akan melangkah ke depan. Saya berharap mari kita perkokoh kebersamaan kita, pergigih upaya kita. Mohon doa restu, sisa masa bakti yang jatuh tempo 20 Oktober dapat dilaksanakan sebaik-baiknya," ungkap SBY.

      Menerima Doa
      Selasa, (9/9), di hari ulang tahun yang ke-59, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku menerima kado terindah dari istri tercinta yang juga Ibu Negara Ani Yudhoyono. Bertempat di kantor Presiden, Jakarta, sebelum memimpin rapat terbatas tentang anggaran pendidikan, Presiden Yudhoyono yang didampingi Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa mengatakan, menerima kado dari Ibu Negara berupa doa.

      "Doa, luar biasa doanya," jawab Presiden Yudhoyono ketika ditanya perihal kado yang diberikan Ibu Negara.

      Presiden Yudhoyono dengan senyum mengembang kepada wartawan berharap, di sisa waktu tugasnya sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan mampu menuntaskan kinerja secara apik.

      "Doakan saya untuk melaksanakan tugas," ujarnya.

      Pria kelahiran Pacitan yang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna coklat muda lebih lanjut menghanturkan terima kasih atas jalinan kerjasama yang selama ini berjalan baik dengan komunitas wartawan.

      "Terima kasih atas kebersamaan selama ini dan saya minta kita lanjutkan kebersamaan kita untuk tugas pembangunan dan atasi masalah untuk masa depan yang lebih baik," paparnya.

      Usai menerima ucapan selamat dari wartawan, Presiden Yudhoyono juga menerima ucapan selamat dari Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kalla yang lebih dulu tiba di Kantor Presiden, menanti kehadiran Presiden Yudhoyono di pintu masuk Kantor Presiden bersama sejumlah ajudan.(Persda Network/ade)

      Sekelumit Kisah Kalla Memimpin RI


      Laporan Keuangan Negara Bak Laporan Toko Rata Penuh DALAM memimpin Indonesia, Wakil Presiden Jusuf Kalla memiliki sekelumit cerita jenaka, namun penuh kekonyolan. Bagaimana tidak, saat memberikan sambutan pembukaan acara Rapat Kerja Nasional Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah bertajuk Peningkatan Kualitas Penyelenggaraan Akuntansi Pemerintahan dalam Mendukung Pertanggungjawaban Keuangan Negara di salah satu hotel berbintang di bilangan Senayan, Jakarta, Rabu (16/7), Kalla yang terkenal terbuka ini secara lugas menyatakan bahwa keuangan negara Indonesia yang bernilai triliunan dikelola layaknya mengelola keuangan toko. Kisah ini bermula saat Jusuf Kalla yang berduet dengan Susilo Bambang Yudhoyono berhasil memenangkan Pilpres 2004 lalu. Jabatan Wakil Presiden sontak dimiliki Jusuf Kalla atas kemenangan di Pilpres 2004, mengalahkan jago PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri dan Hasyim Muzadi.

      Tak lantas berbesar kepala dengan jabatan di tangan, Kalla yang terlibat dalam penyusunan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) memilih untuk mengoptimalkan perbaikan sektor ekonomi yang remuk dihajar krisis.

      "Begitu saya diangkat menjadi Wakil Presiden, mungkin karena kebiasaan sebagai pengusaha maka saya ingin mengetahui berapa kekuatan kita ini, pemerintah ini. Karena itu, menteri pertama yang saya undang adalah menteri keuangan, Jusuf Anwar. Saya ingat betul ini lima hari setelah pelantikan," ungkapnya.

      Dengan nada mulai meninggi, pria kelahiran Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942 lalu ini kembali mengantarkan peserta untuk menengok peristiwa yang terjadi pada dirinya.

      "Saya bilang Pak Jusuf Anwar, saya ingin mengetahui berapa uang kita ini sehingga kita bisa menjalankan pemerintah dengan baik. Biasanya kalau kita pengusaha begitu. Hal utama yang ditanyakan berapa kas hari ini. Ini supaya kita tahu, jangan-jangan perintahkan proyek tidak jalan," ujarnya.

      "Setelah itu, datanglah Menteri Keuangan didampingi Pak Dirjen Pembedaharaan Mulia P Nasution untuk memberikan laporan itu," lanjut Kalla.

      Mantan Menko Kesra yang telah lama malang melintang dalam dunia bisnis bersama NV. Hadji Kalla (perusahaan warisan milik sang ayah) ini dalam waktu tak lama melumat isi laporan keuangan yang diberikan kepada dirinya ini. Hasilnya, tak terduga. Kalla merasa laporan keuangan negara yang dikenal gemah ripah loh jinawi ini dibuat bak seperti toko.

      "Saya terkejut sekali bahwa laporan itu sama dengan laporan toko. Saya minta laporan lebih baik lagi," tutur Kalla yang mendapat tawa dari peserta.


      Atas permintaan Kalla, laporan keuangan kemudian diperbaiki. Selesai diperbaiki, Mulia P Nasution berangkat ke kediaman dinas Kalla. Tak seperti sebelumnya, Mulia justru datang seorang diri tanpa Menteri Keuangan Jusuf Anwar.

      "Cuma Mulia yang datang. Dan mungkin karena Mulia gugup, saya bertanya apakah kita mempunyai macam-macam. Ternyata, saya lebih marah lagi karena laporan justru digabung- gabung. Ada dana dollar sekian, yen sekian, poundsterling sekian, euro sekian, dan kemudian ditotal jadi satu. Saya bilang ini sama dengan jambu tambah apel tambah kambing tambah kerbau lalu ditotal," urainya.

      Kemarahan mantan Menko Kesra memuncak. Laporan keuangan yang berada dalam genggaman tangan di lempar, sambil terus menumpahkan amarah dengan kata-kata kepada diri Mulia. "Ini laporan departemen keuangan apa kalau begini laporannya. Masa nggak mengerti berapa kekuatannya bangsa ini," jelasnya.

      Semenjak kemarahan itu, perbaikan laporan keuangan menjadi amanah Kalla kepada Departemen Keuangan. Tak ingin kena semprot, Depkeu pun menggelar seminar tentang sistem akutansi pemerintahan bertempat di gedung Istana Wapres, Jakarta.

      "Mungkin karena saya yang marah, diresmikannya acara di kantor saya. Saya tanya, kenapa di kantor saya? Dan dijawab agar saya tahu bahwa baru ada sistem akuntansi pemerintahan," pungkasnya.

      Sejak acara tersebut, pembenahan sistem akuntansi dan laporan keuangan serta ditambah adanya UU yang mengatur mengenai hal keuangan negara di tubuh pemerintahan, akutansi dan laporan keuangan negara mulai tertata.

      "Saya berterimakasih bahwa dengan sistem ini kita sudah lebih bisa cepat memantau bagaimana keadaan keuangan kita. Sebenarnya sistem kita memang gampang-gampang susah. Susah karena makin besar anggaran ini. Awal pemerintahan APBN kita baru Rp 300 triliun, sekarang sudah Rp 1000 triliun, pasti pembukuannya lebih sulit. Namun karena sistem, teknologi, maka semakin mudah," sergahnya.

      Meski berbicara dengan kesungguhan hati bak orator ulung, Kalla sempat juga melempar guyonan perihal laporan keuangan yang sempat diminta dari Mulia.

      "Laporan Pak Mulia itu, saya simpan. Itu untuk membuktikan bahwa bagaimana konyolnya kita ini punya administrasi yang tidak mengetahui berapa kekuatannya," katanya seraya menegaskan, seorang pengelola keuangan mesti bersikap konservatif.

      "Saya bilang Menteri Keuangan harus berpikir konservatif. Kalau dulu di perusahaan saya, kalau direktur keuangan saya tidak konservatif saya pecat. Bersikap konservatif itu, kalau orang minta uang atau ditagih, berbicara bagaimana kalau besok atau bisa cicil. Dan begitu nagih pasti cepat. Kita harus begitu," tandasnya.


      Ade Mayasanto, Dalam Riak Sepercik Jalan Pengorbanan

      SBY Tak Lelah Pimpin Pasukan Bike to Work


      Jumat, 20 Juni 2008 | 07:41 WIB

      Laporan wartawan Persda Network, Ade Mayasanto

      JAKARTA, JUMAT - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama istri Ani Yudhoyono memimpin iring-iringan bike to work dari kediamana dinas, Istana Kepresidenan menuju halaman Monas, Jakarta, Jumat (20/6).

      Berjarak sekitar 500 meter dari Istana Kepresidenan, SBY sama sekali tak menampakkan tanda-tanda kelelahan selepas menggenjot pedal sepeda tandem yang dinaikinya.

      Dengan mengenakan celana training dan kaos berwarna abu-abu, SBY dihadapan wartawan mengaku belum merasakan lelah meski kaki telah mengayuh sepeda berkali-kali. "Belum. Kita masih menunggu yang lain," jawab SBY ketika ditanya tentang 'rasa' mengayuh sepeda dari Istana menuju Monas.

      Tak melanjutkan bicara, SBY pun menyerahkan sepeda berwarna biru muda kepada paspampres berjaket merah, dan kemudian rehat di kursi yang telah disediakan panitia kegiatan.

      Turut hadir dalam acara ini antara lain Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Negara Lingkungan Hidup Rachmat Witoelar, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Menristek Kusmayanto Kadiman, Menhub Jusman Syafei Djamal, Menpora Adhyaksa Dault, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi, serta Mensesneg Hatta Radjasa.

      Berbeda dengan kampanye sepeda sehat yang dilakoni SBY pada pertengahan November 2007, yang bertajuk Bicycle for Earth Goes To Bali, kali ini Presiden mengayuh pedal sepeda dari lapangan Monumen Nasional mengitari jalan Gambir, dan kemudian memasuki Istana Merdeka, Jakarta.

      Taman yang terletak di tengah-tengah gedung Istana Negara, Istana Kepresidenan, Wisma Negara dan Kantor Presiden, sontak tumpah ruah dengan peserta sepeda sehat ini. Dan selaku tuan rumah, Presiden Yudhoyono mempersilahkan peserta sepeda sehat berehat dengan sajian makanan pagi berupa bubur ayam, dan lontong sayur berlauk telur.

      Presiden Yudhoyono dalam kesempatan tersebut menyatakan manfaat bersepeda sehat kepada para pekerja di Indonesia. "Khususnya bike 2 work community, para pekerja yang menuju tempat kerja masing-masing menggunakan sepeda, pertama yang kita dapatkan adalah nilai olah raga badan sehat," papar Kepala Negara.

      Selain itu, menurut Presiden, dengan bersepeda menuju lokasi kerja, maka sejumlah dana yang biasa digunakan dalam transportasi terpangkas. "Bagaimanapun bisa lebih hemat dibandingkan kita menggunakan transportasi lain, apalagi harga BBM, dan harga minyak dunia seperti sekarang ini," tukasnya.

      Ayah dua putra ini menambahkan, dengan bersepeda, kelestarian lingkungan kota terjaga dari pencemaran emisi CO2, dan membuat hidup semakin rileks dan santai.

      "Saya kira banyak yang bisa kita dapatkan karena itu saya telah sampaikan kepada saudara Toto, mari kita buat kegiatan ini lebih regular rutenya lebih panjang, terutama untuk kami. Lebih pagi sedikit supaya tidak mengganggu lalu lintas dan ditambah lagi stan-stan bakso, bubur karena itu memberi nilai ekonomi untuk mereka," urai SBY yang disambut tepuk tangan komunitas bike 2 work.

      Dalam kegiatan itu, Presiden Yudhoyono juga memperkenalkan gedung-gedung yang berada di sekitar Istana Kepresidenan. Selesai bersosialisasi gedung-gedung Istana Kepresidenan, SBY menerima satu bingkai foto yang bergambar SPBU, dengan tanki berbentuk galon air.


      Ada 10 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
      kris @ Jumat, 20 Juni 2008 | 11:31 WIB
      kalau mau mencontoh fasilitas yang bagus untuk warga yg bersepeda itu di Jepang, kalau di Jakarta dari pada pake sepeda gak aman...mendingan pake kendaraan aja lah.... di tunggu nih pak SBY fasilitas jalan khusus sepeda...thx
      idam @ Jumat, 20 Juni 2008 | 10:52 WIB
      saya kira dari cikeas ke istana, ternyata cuma keliling monas. itu sih cuma olah raga pak. kalo mau ngasih contoh ya sekalian. nanti yang lain cuma meniru naik sepeda ke monas doang
      black hawk @ Jumat, 20 Juni 2008 | 09:55 WIB
      wah,sy dukung banget tuh naik speda..biar rakyat indonesia pd sehat smua,buat phak terkait buatkan jalur khusus dooong bg pengendara speda...Bravo bike to work !
      wie03 @ Jumat, 20 Juni 2008 | 09:25 WIB
      wah Pak presiden ini.. kemana az pak! baru sadar akan lingkungan hidup atau mahalnya BBM nie...???
      ngajelas @ Jumat, 20 Juni 2008 | 09:21 WIB
      nah gitu dong kasih contoh yang baik hidup sepeda
      firsta @ Jumat, 20 Juni 2008 | 14:33 WIB
      B2W itu silent movement... sedikit bicara banyak menggowes.. maju terus
      tiiyansyah @ Jumat, 20 Juni 2008 | 14:12 WIB
      Syukur alhamdulillah pemimpin negara mampu memberi contoh walau jarak tempuhnya hanya 500 mtr saja. namun justru masyarakat akan segan dan salut bila saja beliau mampu mencontoh teman teman ASSA (Asosiasi Sepeda Sport al-Zaytun) yg baru2 ini mampu melakukan jelajah jawa-madura yang berjarak tempuh 2000km. Ini baru fantastic!!!
      Faiz @ Jumat, 20 Juni 2008 | 13:51 WIB
      Terussss Maju Bike 2 Work!!!!!! Mari Bersepeda!!!!
      Gaol's @ Jumat, 20 Juni 2008 | 13:37 WIB
      Tadinya saya pecinta bike, tapi politisi nimbrung begini kok jadi males ya??
      f3rr1_angel @ Jumat, 20 Juni 2008 | 11:41 WIB
      ntar rakyat naek sepeda ........bpk2 yg terhormat tetep naek mobil.........ngatasi macet ni....

      Ical Cueki Penelitian Geolog Inggris


      Kamis, 12 Juni 2008 | 20:36 WIB

      JAKARTA, KAMIS - Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie tak terlalu memperdulikan hasil penelitian Profesor Richard Davies, geolog dari Universitas Durham, Inggris yang menyimpulkan bahwa semburan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, sejak dua tahun lalu dipicu oleh pengeboran Banjar Panji-1.

      "Itu kan satu dari 100 tanggapan lain," kata Menko Kesra Aburizal Bakrie usai mengikuti rapat persiapan kunjungan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (12/6).

      Sambil mengayunkan kaki, menuju lokasi kendaraan Lexus bernopol RI 13, pria yang kerap disapa Ical ini mempersilahkan pihak kepolisian Daerah Jawa Timur untuk menggunakannya sebagai berkas penyidikan. "Semua itu boleh dibawa. Ada 100 lawan 1, yang menang ya 100 lah," katanya dengan senyum melebar.

      Dari hasil penelitian yang dipublikasikan di jurnal Earth Planetary Science and Letters, Geolog Davies menolak teori yang menyatakan, semburan lumpur panas Lapindo sebagai akibat pengaruh gempa bumi di Yogyakarta. Pasalnya, gempa bumi terjadi dua hari sebelum lumpur menyembur dan akhirnya meluluhlantakan desa Porong.

      Menyangkut permasalahan Revisi Perpres Nomor 14 Tahun 2007 tentang BPLS yang hingga kini belum mendapat tanda tangan Presiden Yudhoyono, dengan santai mantan Menko Perekonomian ini mengaku tidak mengetahuinya secara detail.

      "Saya tidak tahu. Tanya BPLS mungkin masih diantara menteri-menteri barangkali. Saya kan tidak ikut BPLS," katanya. (Persda Network/Ade Mayasanto)


      Ada 32 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
      endah novianti @ Jumat, 13 Juni 2008 | 17:51 WIB
      wah..hebat ya bung ical, sudah menjadi seorang pejabat ditambah menjadi salah satu orang terkaya di asia tenggara, tapi sayang..beliau tidak mempunyai hati nurani. persolalan lapindo mungkin boleh dibilang sebagai "ujian" bagi bung ical, tapi sayangnya, beliau sama sekali tak tanggap tentang apa yang sebenarnya terjadi, hey bung ical apa anda takut jatuh miskin karena menolong rakyat kecil sebagai AKIBAT DARI KERAKUSAN ANDA SEBAGAI SEORANG MANUSIA?
      thompoel @ Jumat, 13 Juni 2008 | 17:09 WIB
      hhhmmm......apa jadinya bangsa ini...
      tea @ Jumat, 13 Juni 2008 | 16:15 WIB
      ckckckck... pak ical.. pak ical.. dimana hati nuranimu pak... bpk kan jd salah satu orang terkaya tuh.. bahkan katanya kekayaanmu itu nambah secara SIGNIFIKAN.. masa ganti rugi warga desa yg kena semburan lumpur aja gak bisa sih?? bapak gak bakalan jatuh miskin deh.. kasian pak tu rakyat luntang lantung gak jelas gitu... mbok ya punya sedikit rasa kasian... gemes gw..
      aris @ Jumat, 13 Juni 2008 | 16:02 WIB
      saya sangat salut ada profesor dari universitas di inggris yang menyatakan lumpur lapindo bukan akibat bencana alam tapi akibat pengeboran banjar panji 1.....mungkin banyak ilmuwan indonesia " dibayar" untuk mengatakan bahwa kejadian itu akibat bencana alam....saya salut dengan ilmuawan dari luar negeri yang tidak mau " dibayar" tetapi lebih mementingkan penelitian ilmiah
      wombat @ Jumat, 13 Juni 2008 | 15:52 WIB
      Money and Power speak louder than words.... dia punya power dan duit dia bisa saja atur semua hasil investigasi ini....ayoo...KPK mbok ini nggak ditangani sich..!!
      enviro @ Kamis, 12 Juni 2008 | 23:02 WIB
      iya 100 lawan 1, tapi yang satu ini berbobot pak, journal terkenal dan dibaca international. kalau yang 100 itu mana ya?? anda menang di dalam negeri, tapi buruk di mata international
      dei @ Kamis, 12 Juni 2008 | 22:26 WIB
      MANA ADA ABURIZAL BAKRI MAU MENGAKU.NAMANYA JG SALAH, TIDAK BAKAL BERANI ABURIZAL MENGAKU BERSALAH.
      robby simamora @ Kamis, 12 Juni 2008 | 22:19 WIB
      kita dalam situasi dimana setiap lini kehidupan rakyat bangsa ini sedang menghadapi cobaan. biaya hidup yang semakin mahal, ancaman krisis pangan karena ketidaktransparansian pengumuman cadangan beras, usaha rakyat yang kolaps karena kenaikan BBM
      Didi @ Kamis, 12 Juni 2008 | 21:24 WIB
      Dasar negara kita pancasila kan ? maka kita pakai deh itu bukannya akan lebih baik jikalau ada orang luar negeri yang meneliti karena bukan kebule-annya tapi keahlian mereka patut kita contoh bukan begitu Pak. Bakri ?? yang pasti 100 : 1 ya yang menang angka 100 tapi kebenaran pasti akan mengangkat segala-galanya jikalau ada titik kesadaran dan kemanusiaan yang tinggi.
      catur @ Kamis, 12 Juni 2008 | 21:22 WIB
      Kalau memang akibat gempa di Jogja apakah ada penelitiannya. Pak ical jangan suka mengaburkan hal-hal yang sudah jelas donk. Buat penelitian, baru berkomentar. Catur-Elmhurst NY
      sago @ Jumat, 13 Juni 2008 | 05:01 WIB
      suatu kebenaran walaupun ditantang dengan berapapun penyalahan ya akan tetap benar gitu loh
      Sudirman @ Jumat, 13 Juni 2008 | 04:57 WIB
      kejadian ini merupakan pelajaran yang mahal buat pemenuhan energi di Indonesia, hal ini klo terjadi di hutan belantara atau lokasi yang tidaka ada penghuninya ya tdk masalah oleh sebab itu AMDAL harus lebih ketat dan teliti jika ada kegiatan semacam itu di tengah permukiman
      wombat @ Jumat, 13 Juni 2008 | 04:40 WIB
      bukan rahasia umum lagi...Seharusnya KPK perlu juga untuk meng investigasi masalah ini.
      wombat @ Jumat, 13 Juni 2008 | 04:40 WIB
      bukan rahasia umum lagi...Seharusnya KPK perlu juga untuk meng investigasi masalah ini.
      gede @ Jumat, 13 Juni 2008 | 01:15 WIB
      wah... Lapindo oh lapindo rakyat kecil susah, pejabat malah kyk berkah... halah2... capee deh...
      adi @ Jumat, 13 Juni 2008 | 11:24 WIB
      Menko kesra kok malah tidak mensejahterakan rakyat??
      yen @ Jumat, 13 Juni 2008 | 10:51 WIB
      menteri kok komen nya ga mutu ya...kliatan banget subjectivitasnya...secara lapindo punya dia geto looh.. bener2 ga punya nyali utk tanggungjawab.
      si budi kecil @ Jumat, 13 Juni 2008 | 10:23 WIB
      HIDUP BAKRI, anda telah menjadi orang terkaya di Asia, saatnya dari anak bangsa, menjadi orang terkaya di dunia, mari kita berdoa agar kasus lapindo, berubah status menjadi BENCANA NASIONAL, sehingga Bakrie tidak mengeluarkan sepeser pun untuk membayar ganti rugi
      Glufixxx @ Jumat, 13 Juni 2008 | 06:46 WIB
      ya jelaslah wong yg 100 sudah "diatur", makanya dagu lu tambah panjang aje...
      warga lapindo @ Jumat, 13 Juni 2008 | 06:22 WIB
      Ical Semakin punya kuasa kamu semakin angkuh,. tidak mempedulikan masyarakat. aku tau partai kamu mengajak kamu bergabung karena mereka butuh uang kamu dan kamu membutuhkan kekuatan politik untuk menjalankan bisnis kotor mu. semoga Allah melimpahkan adzab yang pedih kepadamu.....
      rianovria @ Jumat, 13 Juni 2008 | 13:10 WIB
      saya percaya, 1000 x percaya dgn teori geolog inggris itu. Mari para geolog Indonesia bersatu mencari kebenaran. InsyaAllah Tuhan akan membuka kebenaran dan menjatuhkan kebathilan..Amiien
      Andra @ Jumat, 13 Juni 2008 | 13:09 WIB
      Ical, coba kita tunggu kasus anda setelah pemilu 2009, setelah ganti pemerintahan. Oke?
      atn @ Jumat, 13 Juni 2008 | 13:08 WIB
      kalau nggak percaya soal itu tanya dong pakar geologi yang brkompeten.......coba siapa pakar yang bilang akibat gempa yogya?????/kasihan gempanya dijadikan kambing congek.......
      tonny @ Jumat, 13 Juni 2008 | 12:41 WIB
      Mungkin malah gara-gara lumpur lapindo, maka terjadi gempa Yogya (2 hari berselang). Karena air lumpur yang keluar merupakan penahan lapisan keras dibawah, dan lapidan ini amblas (menimbulkan energi gempa yang besar) gara-gara air lumpur penahannya keluar lewat sumur lapindo (salah ngebor)...... si ical ini orang kaya banget (USD 6Billion hartanya ?), sisihkan 1% aja buat ganti rugi ke masyarakat yang kena dampak lumpur lapindo ini, buat ngurangi dosa2 anda selama ini.
      andy @ Jumat, 13 Juni 2008 | 12:08 WIB
      Ini cobaan dari Allah untuk pak bakrie. Setelah diangkat jadi orang terkaya asia maka sekarang di berikan juga tanggungan kepada pak bakrie. Allah ingin tahu apakah berkat telah diberikan kepada orang yang benar
      dian @ Jumat, 13 Juni 2008 | 15:32 WIB
      ical...ingat Yang Di Atas Maha Tahu....hidup di dunia hanya sebentar dan d akherat ada kehidupan yng abadi. Ingat akan ada pengadialan Allah..yng Maha Adil. Dan harta mu ga ada artinya di mata_Nya.
      bonar @ Jumat, 13 Juni 2008 | 15:02 WIB
      yah ... begitulah kalau sudah tidak punya nurani. Jauh lebih bijak kalau dia mengulang saja kata-kata bosnya: "I am not a scientist my self".
      pagoza @ Jumat, 13 Juni 2008 | 14:53 WIB
      saya setuju Mas tonny, mungkin cukup 0,1 % sudah dapat mengatasi penderitaan rakyat yang sudah dua tahun ini bagai "gelandangan" ..selain itu Mas Ical kan usahanya bejibun, dari sabang ..tanah jawa ...sampai Irian..apalagi jabatan Mas Ical sbg wakil ketua BAKORNAS PB....OK BOS...siap ganti kan ? Kasian rakyat sidoarjo...salam
      david @ Jumat, 13 Juni 2008 | 13:49 WIB
      Ayo tokoh masyarakat lumpur lapindo mengajukan naik banding ke mahkamah agung. Sebab ini menyangkut nasib banyak orang. Di tempat lain juga coba hubungi coba meminta agar beliau mau paling tidak menulis surat yang berisi hasil penelitiannya secara detail kenapa beliau bisa yakin ini adalah kesalahan pengeboran.kepada mahkamah agung
      sunrise @ Jumat, 13 Juni 2008 | 13:31 WIB
      ya...... Alloh benamkan saja orang2 yang zalim terhadap korban bencana lumpur sidoarjo kedalam lumpurnya

      JK "Warning" Bendahara Golkar



      Selasa, 17 Juni 2008 | 23:09 WIB

      JAKARTA, SELASA - Aksi penyadapan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kepada JAM Kejagung dari telepon Artalyta Suryani memberi pelajaran bagi Partai Golongan Karya dalam mengeruk dana-dana kampanye Pemilu dan Pilpres 2009.

      Tak ingin bernasib sama dengan para JAM Kejaksaan Agung yang 'panas dingin' di tangan KPK, Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla memberikan peringatan keras kepada bendahara-bendahara Partai Golkar se-Indonesia untuk tidak main-main dalam menggalang dana-dana kampanye Pemilu dan Pilpres 2009 mendatang.

      "Sekarang tidak ada yang bisa diminta di departemen, jangankan diminta, baru kita berbicara, disadap telepon kita dan bisa masuk penjara. Jangan coba-coba telepon macam-macam orang kalau meminta sumbangan kepada pejabat," kata Jusuf Kalla ketika menutup Rapat Koordinasi Teknis Bendahara Partai Golkar di Jakarta, Selasa (17/6).

      Menurut Kalla, tidak hanya aksi penyadapan KPK yang menjadi ancaman serius dalam tubuh partai saat ini. Berdasarkan ketentuan yang berlaku, yakni UU Nomor 2 Tahun 2008 tentang partai Politik, partai-partai didesak untuk berbenah diri dalam mengelola anggaran yang telah dikantongi. Untuk itu, ketertiban dalam anggaran partai menjadi modal awal dalam menyukseskan kegiatan partai dalam Pemilu dan Pilpres 2009.

      "Karena itu dibutuhkan penataan, pengaturan, peningkatan, pengumpulan dana dari anggota kader dan juga masyarakat secara sah dan halal. Kalau kita ingin mencapai tujuan, dengan wakil yang banyak, program yang baik, kita mesti mempunyai sumber yang baik. Tanpa sistem yang baik, faktor pendukung apapun yang kita inginkan tidak akan tercapai," ujarnya.

      Kalla mengatakan, pengalaman pahit pernah menghampiri sejumlah petinggi partai Golkar ketika pengelolaan anggaran dilakoni tidak baik. Salah satu contoh yang dikemukakan Kalla adalah dengan belajar dari pengalaman kepemimpinan Akbar Tandjung dalam upaya menyelamatkan Partai Golkar, yang ternyata memaksa Akbar masuk bui.

      "Bagaimana usaha keras Pak Akbar untuk membangun Golkar kemudian bermasalah dan beliau jutru ditahan karena sumber-sumber dana yang dituduhkan. Kita tidak ingin mengulang sejarah itu, karena itu semua harus tertib," urainya.

      Lebih lanjut Kalla menambahkan, sanksi-sanksi yang berlaku saat ini mirisnya lagi tidak hanya mengena pada sosok yang melakukan kesalahan dalam pengelolaan anggaran. Partai politik bahkan bisa kehilangan muka, dan dikenai sanksi dalam hal ini. "UU saat ini penuh sanksi. Dan sanksi itu akan berdampak luas kepada partai. Maka itu, yang pertama ditata di Golkar adalah keteraturan, harus halal dan baik," pungkasnya.

      Untuk menggapai partai yang baik, lanjut Kalla, partai ke depan mesti terbuka. Partai tidak lagi dikelola layaknya toko kelontong atau bak perusahaan berbentuk CV. "Sekarang partai itu sama dengan PT Tbk. Perusahaan yang terdaftar di bursa dan harus terbuka. "Jadi akuntan bisa periksa, publik baca, dan kalau salah reiiko masuk penjara, atau dihukum," terang Kalla. (Persda Network/Ade Mayasanto)


      Ada 5 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda
      ariess @ Rabu, 18 Juni 2008 | 12:36 WIB
      Khatib mengingatkan diri sendiri...
      JUIZ @ Rabu, 18 Juni 2008 | 11:39 WIB
      Maksudnya kutu kupret"jangan lewat telp kalau mau minta duit tp langsung dateng aje kerumahnya atau kekantor".......yg kaya gini kok ngasih saran,basi tau
      Henry Lumbantoruan @ Rabu, 18 Juni 2008 | 10:09 WIB
      kok baru sekarang ya artinya dari dulu udah ada budaya yg beginian nasib orang Indonesia, kapan kau maju negaraku
      bambang @ Rabu, 18 Juni 2008 | 10:06 WIB
      he he he..sudah pada takut semua tuh..ya jelas mereka itu orang-orang bermasalah
      Hari @ Rabu, 18 Juni 2008 | 08:34 WIB
      hehehe JK baru sadar, selama ini kemana aja

      Menengok Wisata di Negeri Jiran (1)


      Jajakan Pesona Tanpa Tonjolkan Seks



      KEDATANGAN turis dalam 10 tahun terakhir menjadi bidikan yang memikat negara-negara ASEAN. Indonesia,Thailand, Singapura, Vietnam, Malaysia dan sejumlah negara lainnya saling unjuk gigi untuk memikat turis-turis lokal.

      Di Indonesia misalnya, promosi visit Indonesia 2008 terus digenjot untuk mendatangkan wisatawan mancanegara. Bahkan baru-baru ini, Indonesia menggelar kegiatan International Travel Fair (IITF) di Balai Kartini Exhibition Center pada 28-30 Maret 2008 lalu, sekedar menggalang trade visitor day bagi pengunjung transaksi bisnis.

      Lain hal dengan Indonesia, negara sahabat Indonesia yakni Malaysia mengantongi cara sendiri untuk memikat turis mancanegara. Mengundang kalangan biro perjalanan, korporasi, travel manager, dan media, pemerintah Malaysia mengadakan sosialisasi wisata Malaysia dengan menggelar kegiatan Colours and Flavours of Malaysia. Kegiatan ini mempertontonkan kekayaan warna, budaya, dan ragam makanan pada Sabtu,(24/5) di Dataran Perdana, Putrajaya.

      Perayaan ini menjadi patokan Kementerian Pelancongan untuk menampilkan Malaysia dengan keunikan multikultur, multi-etnis, dan masyarakat multinasionalnya dalam suasana yang penuh ria dan tawa.

      Dalam acara ini berbagai pertunjukan digelar dari pertunjukkan jalanan, musik dan tarian. Tidak hanya itu, menurut rencana perayaan acara ini akan secara resmi dibuka oleh, Yang di-Pertuan Agong Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin Ibni Al-Marhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah Raja Malaysia dan Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong Tuanku Nur Zahirah Ratu Malaysia.

      Acara Colours and Flavours of Malaysia dimeriahkan pertunjukan dari 1,600 peserta dengan bentuk parade. Acara ini merupakan sebuah ajang dalam kampanye Visit
      Malaysia Year dan juga sebagai salah satu top 50 national events terbesar dalam kalender acara Malaysia.

      "Malaysia adalah negara muslim. Dari budaya kita berbeda dengan Singapura dan Thailand. Produk-produk pun berbeda. Kita juga mempunyai budaya penduduk yang
      ramah," ujar Deputy Minister of Tourism, Malaysia Dato' Sri Sulaiman Abdul Rahman Taib.

      Dengan kondisi yang demikian, lanjut dia, pemerintah Malaysia tidak berminat untuk mengembangkan dunia wisata negeri Malaysia yang menjajakan dunia seks.

      "Bila ingin mencari wisata seks, Malaysia bukan tempatnya. Lebih baik mencari negara lain," ungkapnya bersemangat.

      Menurut Sulaiman, pemerintah menawarkan para shopaholic dan bargain hunter (pemburu barang diskon) dengan wisata belanja, wisata olahraga, wisata bahari, dan wisata sejarah Malaysia.

      Data yang dikeluarkan dari kegiatan tersebut, Malaysia berhasil menggaet turis mancanegara sebanyak 7.102.617 selama empat bulan sejak awal Januari 2008 lalu. Angka
      ini lebih besar dari perolehan 2007 pada periode yang sama. Saat itu, turis mancanegara Malaysia menggapai 7.044.962. Dan yang sangat mengejutkan, Indonesia
      menjadi negara dua terbesar 'pengekspor' turis ke Malaysia pada periode tersebut.

      Turis Indonesia sepanjang Januari hingga April 2008 ke Malaysia sebanyak 697.339. Angka ini dibawah turis asal Singapura yang mencapai angka 3.487.967.

      Turis asal Indonesia ini membawahi kunjungan turis asal Thailand (488.278), Cina (339.789), Brunai Darussalam (275.141), India (159.823), Jepang (142.568), Australia (134.778), Amerika Serikat (128.521) dan Filipina (116.797).

      "Untuk mencapai itu, kita membuat akses, promosi, pemberian insentif dan perbaikan di bidang penerbangan," kata Director Council Tourism Malaysia, Dato' Mirza tanpa menyebut detail cara mengubah Malaysia menjadi negara yang mengasyikan dikunjungi turis mancanegara(Persda Network/ade mayasanto)

      KOMENTAR PEMBACA :
      monyong @ Senin, 9 Juni 2008 | 11:44 WIB
      apa lagi yah ntar yang di curi malaysia dari indonesia???
      jay @ Kamis, 29 Mei 2008 | 16:26 WIB
      Sepertinya kita memang harus sabar dh tetangga kita yang satu ini. Spertinya dia iri dengan "kemiskinan" budaya yang ia derita sehingga dia harus berusaha mencuri-curi "kekayaan" milik tetangganya


      Malaysia Klaim Kantongi Budaya Wayang Kulit


      TIDAK lengkap rasanya berwisata ke Malaysia kalau tidak mengunjungi pusat pemerintahan federal baru di Putrajaya yang berlokasi di propinsi Selangor. Berada
      di hamparan tanah seluas lima hektar, Putrajaya menawarkan wisata desain kotapraja modern dengan tampilan dua konsep, yakni kota taman dan kota pintar.

      Di daerah Putrajaya, terdapat pusat konvensi yang berbentuk layang-layang wau atau bulan. Gedung ini memiliki fasilitas untuk konvensi internasional dan regional, serta untuk acara pameran. Selain itu, Putrajaya juga menampilkan lima jembatan unik yang
      menampilkan kekhasan daerah wilayah tersebut. Kelima jembatan itu antara lain Jembatan Putra, Jembatan Seri Perdana, Jembatan Seri Bakti, Jembatan Seri Gemilang
      dan Jembatan Seri Wawasan.

      Dengan lokasi yang menawan tersebut, pemerintah Malaysia pun menggandeng sekitar 700 tamu dari wartawan media cetak dan elektronik, biro perjalanan dari berbagai negara Asia, Amerika, Eropa dan Timur Tengah.

      Tidak sekedar menawarkan lokasi, pemerintah Malaysia memamerkan kegiatan wisata Malaysia bertajuk Colours and Flavours of Malaysia. Kegiatan ini mempertontonkan
      kekayaan warna, budaya, dan ragam makanan, serta keunikan multikultur, multi-etnis, dan masyarakat multinasionalnya dalam suasana yang penuh ria dan tawa.

      Namun sebelum acara puncak yang menggelar pertunjukan jalanan, musik dan tarian dibuka, pengunjung mendapat pertunjukan wayang kulit yang menurut pembawa acara,
      wayang kulit juga terdapat di wilayah Malaysia sejak 250 tahun yang lalu.

      "Wayang kulit ini sudah ada di Malaysia sejak 250 tahun yang lalu," ujar pembawa acara kepada pengunjung dalam bahasa Melayu dan Inggris.

      Tidak seperti yang biasa terjadi di Indonesia, wayang kulit ala Malaysia ini diperagakan oleh tiga dalang sekaligus. Tiga dalang ini tidak hanya duduk diam, dan
      kemudian memainkan olah tangan untuk membuat 'hidup'wayang kulit. Ketiga dalang ini bahkan bisa berlari untuk membuat cerita wayang pada layar lebar sehingga menarik untuk ditonton. Diiringi tujuh alat musik,seorang dalang bercerita dengan menggunakan bahasa melayu. Pertunjukkan wayang kulit ini berkisah tentang raja yang gemar memelihara binatang gajah, harimau,dan burung.

      Kamrul Hussin, seorang dalang yang sempat mempetontonkan aksinya selama 20 menit kepada Persda Network membeberkan perihal wayang kulit yang berada di Malaysia.

      "Wayang kulit yang saya mainkan itu wayang kulit dari Kelantan. Wayang ini dulunya dipanggil Wayang Siam," kata Kamrul Hussin dengan semangat.

      Tidak diketahui persis, sejak kapan perubahan nama dari wayang Siam menjadi wayang Kelantan.Namun Kamrul menceritakan bahwa kelantan sendiri berarti petani.

      "Petani itu adalah kelantan di Malaysia," tandasnya.

      Kamrul menambahkan, dalam wayang kulit Kelantan sebenarnya hanya menggunakan layar kecil dengan satu dalang disertai alunan musik tradisional.

      "Layar lebar dan tiga dalang yang anda lihat tadi adalah eksprementasi yang kita buat supaya dapat ditonton orang banyak. Tapi di Kelantan, dalang itu satu dengan suara dan karakter bermacam-macam, "ungkapnya.

      Pertunjukkan wayang kulit ala Malaysia dalam acara Colours and Flavours of Malaysia yang dimeriahkan sekitar 1,600 peserta dengan bentuk parade sempat mendapat perhatian besar dari rombongan Indonesia yang ikut hadir dalam acara itu. Sebagian mempertanyakan original wayang kulit sebagai budaya di Malaysia.

      "Yang saya tahu wayang itu adalah bahasa jawa. Apakah ini akan diklaim lagi oleh mereka," tanya seorang rombongan Indonesia kepada Persda Network dengan nada
      meninggi.(Persda Network/ade mayasanto)

      Subscribe To RSS

      Sign up to receive latest news